Menu

Mode Gelap
Gubernur Khofifah Bersama Forkopimda Tinjau Pengamanan Natal 2025 di Surabaya Pastikan Perayaan Natal 2025 Berjalan Aman, Forkopimda Sidoarjo Pantau Gereja Proyek Rehabilitasi dan Renovasi Madrasah PHTC Jatim 2 Tahap Finishing, Addendum 14 Hari  Kominfo Jatim Evaluasi Pengelolaan SP4N LAPOR!, Dorong Peningkatan Status Kabupaten/Kota Bupati Sidoarjo Tinjau Longsor Bantaran Sungai di Desa Temu, Instruksikan Penanganan Darurat Perkuat Tata Kelola Digital, Ribuan Desa di Jawa Timur Terima Hibah Komputer dari Korsel

KESEHATAN

Indonesia Ranking 4 Dunia Terburuk Pencegahan Dan Penanggulangan HIV/AIDS

LOGOS TNbadge-check

Bandung, Transnews-Sekretaris Komisi Penanggulangan Aids (KPA)Kota Bandung, Dr.Bagus Rahmat Prabowo,disela sela Rapat Kordinasi lintas sektor terkait Pencegahan dan Penanggulangan HIV/AIDS, di gedung Sate Bandung,Senin kemarin (24/6/2019), mengatakan laporan dari UNAIDS bahwa Indonesia menempati ranking 4 dunia terburuk dalam pencegahan dan penanggulangan HIV treatment coverage (jangkauan perawatan). Kita (Indonesia) hanya sekitar 18 persennya saja.

Sementara penanganan terhadap Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) di Kota Bandung, kata Bagus,sudah jauh lebih baik dari persentase nasional.

” Di Kota Bandung sudah mampu memberikan ‘treatment coverage’ kepada 40 persen ODHA.Semakin tinggi orang yang diobati maka infeksi baru semakin turun,” Jelasnya.

Di Indonesia, kata Bagus, kondisinya hanya 18 persen memperoleh perawatan. Artinya masih ada 82 persen yang positif tapi tidak tahu statusnya dan masih bisa menularkan orang lain.

” Kalau di Kota Bandung penanganannya sedikit lebih baik, kita sekitar 40 persen,” katanya.

Bagus menegaskan, tingginya persentase pengobatan tersebut tidaklah cukup untuk menanggulangi dan mencegah penyebaran HIV/AIDS. Perlu ada upaya lainnya agar bisa menjangkau lebih dalam lagi kepada para ODHA.

Selain dari pengobatan yang menjadi bagian dari usaha moderen melalui medis dan obat-obatan, Bagus menyatakan bahwa upaya konvensional dengan pendekatan humanis dalam rangka mencegah penyebaran HIV/AIDS.

“Sekarang kita sudah punya berbagai metode untuk pencegahan penularan, misalnya yang klasik adalah tidak berhubungan seks atau tidak menggunakan napza (narkotika, psikotropika, dan zat adiktif).

” Tapi ada pencegahan biomedis ini cukup tren, yaitu dengan pengobatan atau profilaksis pengobatan, ini bisa mencegah penularan,” tandasnya.

Wakil wali kota Bandung Yana Mulyana menegaskan, upaya pencegahan harus gencar agar dapat menekan angka penyebaran HIV/AIDS. Untuk itu, kolaborasi bersama KPA tidak hanya untuk menanggulangi para ODHA, tetapi turut berupaya mengantisipasi penyebarannya.

“ Mudah-mudahan dengan ada KPA ini penanggulangan AIDS di Kota Bandung bisa lebih baik,” Harap Yana. (DK/Nas)

Baca Lainnya

Sinergi di Bulan Ramadan: BPJS Ketenagakerjaan Depok Pererat Silaturahmi dengan Agen Perisai

11 Maret 2026 - 22:19

Ketua DPRD Jepara Pimpin Langsung Pembagian Takjil untuk Masyarakat

11 Maret 2026 - 21:59

Menakar Implikasi Konflik Timur Tengah, Pakar UPER: Saatnya Indonesia Mandiri Teknologi dan Energi

11 Maret 2026 - 16:39

Peringati HUT Ke-45, Dirut Tirta Kahuripan: Fokus Digitalisasi dan Efisiensi Atasi Kehilangan Air

11 Maret 2026 - 16:18

News Trending EKBIS