Liku-Liku Cinta dan Situs Rindu

 

Buku antalogi puisi penyair nusantara “Kutulis Namamu Di Batu” yang diterbitkan komunitas sastra Alinea Baru. (Ft/ist)

(Dzikir Kutulis Namamu di Batu)

Oleh Hamidin Krazan

Membaca Kutulis Namamu di Batu (KNdB), menemukan lika-liku cinta dan situs rindu. Mengapa cinta dan rindu? Sebab di KNdB ditemui jejak-jejak cinta beraneka warna. Cinta dengan bermacam perhelatan. Cinta sarat perjuangan. Baik yang telah hingga yang masih dilakoni. Rincian wajah cinta banyak jenis. Seiring tempaan waktu semakin jumlah tak terhitung jari. Menyatu dalam wadah jiwa baik yang masih eksis, ada yang bersenyawa, tumbang tinggal kenangan, lepas di kehampan, bahkan bermetamorfosa. Cinta menjelma rasa yang tak diimpikan keberadaannya.

Apapun rupanya, cinta niscaya menyemai rindu. Cinta ibarat sebatang pohon dan rindu laksana jejamur musim penghujan. Jamur dengan aneka kandungan zatnya. Keduanya bisa saling menguntungkan, dapat sejalan tapi tidak berdapak konflik, juga bis terjadi jalinan erat mendalam, atau hubungan yang parasitistik.

Dari muara rindu dan musabab cinta itu, teralirilah sekian alur sajak hasil olah yang sungguh-sungguh dari karsa, rasa dan olah cipta penulisnya (penyair). Perhelatan itu dapat kita simak melalui PADAMU (Eve Fuji Astuti), /tersenyumku penuh menyemai cintamu/ Candu rindu yang mengkalbu menjalar syahdu/ (hl. 31). Kesejukan ruang rindu kentara terlukis dalam ASA (Euis Susilawati Dua) /Biarlah rinduku rindumu terbungkus rimbunnya embun pagi/ (hl. 34). Jalinan cinta erat diwakilkan pada DIA, /Dua bidadari mungil/ adalah puisi kongkrit cinta tulusmu/ Lelakiku/. (hl. 35)

Melalui media sajak KNdB pula telah tercetak karnaval banyak ‘nama’ yang terprasasti di batu bermacam makna. Sebagaimana dikatakan kurator Putra Gara (Budayawan), katanya, “Setiap penyair punya sudut pandang tersendiri tentang sebuah nama yang diabadikannya dalam untaian kata.” (hl. 4). Nama segala ada yang bernama, nama simbolik hingga nama Maha Mulia Segala Asma-Nya. Semua itu nyata dapat dicerna seperti pada HIKAYAT HADJI GODJALI, SAJAK KEPADA TAN (Adul Aziz), KENANGAN CINTA; kepada Rindu Leonsino (Asep Setiawan), PUISI RINDU UNTUK CAK NUN (Banyu Segara Pantura), KEBUN RAYA (Giyanto Subagyo), GUS DUR, AKU RINDU (Najibul Mahbub), PASANGGRAHAN (Jajang Suryana), LELAKI PEMETIK DOA (Maryati Sukendar), WAJAH DALAM PiGURA (Rintanalinie GP), MAS IS, NAMAMU TERPATRI DI DALAM HATIKU (Tri Widiastuti), LELAKI BERMATA API Jam Pieterzoon Coen (Yahya Andi Saputra). Di balik nama juga terpapar kisah tak sekedar bermuatan cinta dan rindu be rindu belaka.***

(Penulis adalah penggiat sastra di Alinea Baru)

 

 568 views

Catatan Redaksi: Apabila ada pihak yang merasa dirugikan atau keberatan dengan penayangan artikel dan/atau berita tersebut di atas, Silakan mengirimkan sanggahan dan/atau koreksi kepada Kami, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers melalui email: transnewsredaksi@gmail.com Terima kasih.