TransNews. Jakarta — Jakarta kerap dipahami sebagai kota yang bergerak tanpa jeda. Deru kendaraan, ritme kerja, dan bangunan-bangunan tinggi menjadi penanda kesehariannya. Namun, di balik hiruk-pikuk itu, denyut kehidupan kota justru sering terjaga dalam ruang-ruang sunyi tempat seni diciptakan—di hadapan kanvas, dalam dialog batin antara perupa dan imajinasinya.
Kesadaran bahwa seni merupakan penyeimbang kehidupan kota telah tumbuh sejak lama di Jakarta. Pada era Gubernur Ali Sadikin, infrastruktur budaya dipandang sebagai kebutuhan mendasar sebuah metropolis. Dari pemikiran itu lahir Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki (TIM) pada 1968, disusul Institut Kesenian Jakarta (IKJ) dan Pasar Seni Ancol sebagai ruang temu seniman dan publik. Jejak sejarah ini menandai upaya menjadikan seni sebagai bagian dari napas kota.
Semangat tersebut kini dirawat oleh Komunitas Perupa Jakarta Raya (PERUJA). Memasuki usia enam tahun, PERUJA menandai perjalanannya dengan menggelar kegiatan melukis bersama bertajuk “Bela Rasa: Refleksi 6 Tahun PERUJA, Kepedulian dan Empati atas Berdukanya Nusantara” di Balai Budaya Jakarta, Selasa (30/12/2025).


Anggota PERUJA melukis bersama.
Bagi para perupa, kegiatan ini tidak dimaksudkan sebagai perayaan semata. Di hadapan kanvas beragam ukuran, mereka merespons kegelisahan bersama: bencana alam yang berulang, ketegangan sosial-politik, serta derasnya arus informasi palsu yang mengikis kepercayaan publik.
“Kami ingin merayakan usia enam tahun ini dengan cara yang lebih bermakna. Melukis bersama menjadi medium untuk menyampaikan empati dan doa bagi Nusantara,” ujar Rindy, Ketua PERUJA.
Lebih jauh Rindy menjelaskan, PERUJA mengusung semangat kebebasan berekspresi yang cair. Bagi komunitas ini, kebebasan dimaknai sebagai keberanian untuk jujur dalam berkarya—tanpa menanggalkan tanggung jawab sosial yang melekat pada seni.
Dalam konteks kehidupan Jakarta yang semakin padat, seni dipandang sebagai ventilasi batin, ruang pelepas dari tekanan dan kekakuan ritme urban.
“Seni memungkinkan kita mengolah duka menjadi energi yang lebih terang. Ketika proses itu dilakukan bersama, ia menjadi kekuatan kolektif,” kata Rindy lagi.
Selain melukis bersama, ada juga sesi diskusi tentang seni rupa yang menempatkan Chrysnanda Dwilaksana dan Aidil Usman sebagai pembicara. Diskusi yang berlangsung ba’da magrib itu dimoderatori oleh Putra Gara.
Dalam paparannya, Chrysnanda menjelaskan bahwa kegiatan “Bela Rasa” juga menjadi pengingat halus bagi para pemangku kebijakan bahwa kemajuan kota tidak semata diukur dari pertumbuhan ekonomi dan pembangunan fisik. Kesehatan ruang batin warga—tempat empati dan kepedulian tumbuh—merupakan fondasi yang tak kalah penting.
“Kesenian, di Jakarta maupun di Nusantara secara luas, berperan sebagai penjaga nilai-nilai kemanusiaan. Ia merawat kepekaan, menjaga jarak dari sikap abai, dan mengingatkan bahwa sebuah kota hidup bukan hanya karena infrastrukturnya, tetapi karena rasa yang terus dipelihara warganya,” ungkap Chrysnanda, jenderal polisi yang juga pelukis aktif.

Ramah tamah usai acara.
Sementara Aidil melihat, memasuki tahun keenam perjalanannya, PERUJA menegaskan komitmen untuk terus hadir di ruang-ruang kebudayaan ibu kota. Melalui kanvas dan warna, mereka merenda bela rasa—menyulam empati dan harapan agar Jakarta, di tengah segala kesibukannya, tetap memiliki ruang untuk bernapas.
“PERUJA harus mengambil peran dari berbagai perkembangan ibu kota. Komunitas ini harus menunjukkan eksistensinya bukan hanya sekadar pameran, tetapi lebih dari itu, harus menciptakan regenerasi untuk kelangsungan seni itu sendiri,” ujar Aidil, yang juga Ketua Komite Seni Rupa Dewan Kesenian Jakarta.
Acara diskusi pun diwarnai testimoni dari berbagai anggota PERUJA. Yang semuanya memberikan tanggapan tentang PERUJA kedepan.
Usai acara diskusi, ada potong tumpeng, undian atau door prize, lalu disusul ramah tamah. Keguyuban serta kebersamaan dalam semangat memajukan seni budaya terutama seni rupa terlihat dari wajah para anggota PERUJA. Selamat ulang tahun Perupa Jakarta.***












