SIDOARJO, transnews.co.id – Angka putus sekolah di Kabupaten Sidoarjo masih mencapai 4.305 anak pada 2025. Kondisi ini menjadi salah satu tantangan yang harus mendapat perhatian serius dari Dewan Pendidikan Kabupaten Sidoarjo periode 2026–2031 yang baru dikukuhkan.
Sebanyak 11 anggota Dewan Pendidikan resmi dikukuhkan di Pendopo Delta Wibawa, Rabu (21/10/2026). Mereka diharapkan tidak sekadar menjadi mitra pemerintah, tetapi juga mampu memberikan solusi konkret terhadap persoalan pendidikan, mulai dari pemerataan akses sekolah, kompetensi guru, hingga penanganan anak putus sekolah.
Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah Kabupaten Sidoarjo, Mohammad Ainur Rahman, menegaskan bahwa tantangan pendidikan pada era digital semakin kompleks. Karena itu, dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah daerah, Dewan Pendidikan, dan masyarakat untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM).
“Masalah pendidikan merupakan tanggung jawab kita bersama, baik pemerintah, Dewan Pendidikan, maupun masyarakat.
Terutama dibutuhkan kolaborasi pemerintah dengan Dewan Pendidikan,” katanya dalam sambutan pengukuhan.
Ainur menekankan, peningkatan kualitas pendidikan tidak cukup hanya berorientasi pada prestasi akademik. Pembentukan karakter, penguatan moral, pelestarian kearifan lokal, serta kesiapan menghadapi perkembangan teknologi juga harus menjadi perhatian.
Ia meminta Dewan Pendidikan membangun komunikasi yang kuat dengan Dinas Pendidikan dan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait. Ego sektoral, menurutnya, harus dihindari agar kebijakan pendidikan dapat berjalan lebih efektif dan tepat sasaran.
Selain itu, Dewan Pendidikan diminta aktif menyerap aspirasi masyarakat dan mengidentifikasi persoalan yang masih menghambat pemerataan kualitas pendidikan di Sidoarjo.
“Adanya masalah-masalah tersebut, maka saya harap Dewan Pendidikan memberikan masukan kepada kami (pemerintah daerah) tentang program inovatif yang mampu meningkatkan pendidikan di Sidoarjo serta memperkuat generasi muda dari dampak teknologi,” pesannya.
Berdasarkan data yang disampaikan, jumlah anak putus sekolah di Sidoarjo turun dari 7.430 anak pada 2024 menjadi 4.305 anak pada 2025. Meski mengalami penurunan, angka tersebut menunjukkan bahwa persoalan keberlanjutan pendidikan masih membutuhkan penanganan serius dan berkelanjutan.
Sementara itu, Sidoarjo memiliki 585 sekolah dasar (SD), negeri maupun swasta, dengan 8.531 guru dan 141.578 siswa. Pada jenjang sekolah menengah pertama (SMP), terdapat 192 sekolah dengan 4.203 guru dan 76.300 siswa.
Besarnya jumlah satuan pendidikan dan peserta didik tersebut menuntut kebijakan yang tidak hanya meningkatkan mutu pembelajaran, tetapi juga memastikan setiap anak memperoleh kesempatan mengenyam pendidikan.
Adapun 11 anggota Dewan Pendidikan Kabupaten Sidoarjo periode 2026–2031 terdiri atas H. Nanang Wahyono, S.T., M.Pd. sebagai ketua, H. Ali Mashuri, M.Pd.I. sebagai sekretaris, dan Dr. Niswatin, S.Pd., M.Pd. sebagai bendahara.
Sementara itu, anggota lainnya adalah Dr. Joko Siswanto, M.Pd.I.; Drs. H. Misbahuddin, M.M.; Drs. Qodim, M.Si.; Dr. Anita Puji Astutik, S.Ag., M.Pd.I.; Budi Rahayu Sri Wulan, S.Pd., M.Pd.; Dr. Fajar Rahmat Dwi Miarsa, S.H., M.H.; Dr. Ir. Pancanto Kuat Prabowo, M.M.T.; serta H. Anas Syamsul Arif, M.Pd.
Dengan kepengurusan baru tersebut, Dewan Pendidikan dituntut membuktikan perannya melalui rekomendasi kebijakan yang terukur dan berdampak langsung bagi masyarakat.
Penurunan angka putus sekolah, pemerataan akses pendidikan, serta peningkatan kualitas guru menjadi pekerjaan penting yang perlu terus dikawal selama masa jabatan lima tahun ke depan.












Komentar ditutup.