Menu

Otomatis

ENTERTAINMENT

Usung Tema “The Verses in Motion”, SANFFEST 2026 Jadi Wadah Sineas Santri Menembus Industri Perfilman Global

Avatar photobadge-check

Foto Bersama di Press Conforence SANFEST 2026 Perbesar

Foto Bersama di Press Conforence SANFEST 2026

JAKARTA, transnews.co.id — Santri Film Festival (SANFFEST) 2026 kembali digelar untuk tahun kedua dengan mengusung tema “The Verses in Motion”. Festival ini hadir sebagai jembatan antara dunia pesantren dan industri perfilman nasional untuk mendorong santri menyampaikan nilai-nilai Al-Qur’an dalam konteks kehidupan modern melalui bahasa sinema.

Sejumlah nama besar di industri perfilman Indonesia seperti Tyo Pakusadewo, Mario Irwinsyah, Fajar Bustomi, dan Niniek L. Karim turut terlibat dalam gelaran ini. SANFFEST 2026 menyediakan total hadiah sebesar Rp415 juta yang terbagi ke dalam tiga kategori kompetisi utama,

Santri Pelajar: Memperebutkan sembilan penghargaan teknis dan artistik (Penata Suara, Penata Artistik, Sinematografi, Penyunting Gambar, Skenario, Penyutradaraan, Pemeran Terbaik Putera & Puteri, dan Film Cerita Terbaik).

Santri Umum: Meliputi tiga penghargaan (Skenario Terbaik, Penyutradaraan Terbaik, dan Film Cerita Terbaik).

Kategori Inklusi: Terdiri dari Film Inklusi Disabilitas Terbaik dan Film Inklusi Daerah 3T Terbaik.

Penghargaan Khusus: 20 Poster Terbaik yang terbuka untuk seluruh kategori.

Selain kompetisi, SANFFEST 2026 juga menjadi wadah edukasi dan pembinaan melalui program Jaulah bersama sineas internasional, kurasi dan penjurian profesional, screening karya, hingga Malam Anugerah.

Penggagas Santri Film Festival, Neno Warisman, optimistis sineas santri mampu menembus kancah internasional dan membawa dampak positif bagi peradaban dunia.

“Sineas-sineas yang mampu, memberikan warna dan juga memberikan kontribusi nyata the values, good values kepada masyarakat dan peradaban dunia. Nah, ini  saya kira langkah menuju ruang global ini untuk para santri terbuka lebar,” ujar Neno.

Neno menegaskan bahwa pelaksanaan festival ini menerapkan petunjuk teknis (juknis) dan kriteria seleksi yang ketat.

“Kita menyakini, ya, bahwa kalau juknis Santri Film Festival yang paling penting adalah, Dia tidak mengandung unsur kekerasan, bahkan ada satu film yang bagus sekali tahun lalu. Wallahi, bagus! Saya sendiri sampai bilang ini bagus dan kita juri itu berdebat berkali-kali karena sayang sekali sama film ini. Cuma di dalamnya ada unsur kekerasan, yang tidak sengaja,”

“Unsur kekerasan itu bukan sengaja, tetapi tetap kita harus komit, kita gugurkan, kemudian yang kedua, tidak mengandung unsur ideologi terlarang. Dan kita tidak mau, ya, ikut berperan di dalam memasukkan ideologi terlarang, yang ketiga, kita juga tidak mau, ikut menyertakan walaupun hanya sedikit slight a slight phenomenon, slight simbol atau kecil, yang berkaitan dengan penyimpangan seksual, penyimpangan kepribadian. Itu kita betul-betul akan dan sangat teliti dan kita akan membakukan itu sampai 100 tahun ke depan. Kita tetap harus memiliki, pegangan dan prinsip yang tidak berubah,” tegasnya.

Melalui penegakan standar tersebut, Neno berharap festival ini menjadi sarana edukasi dan refleksi kritis bagi para santri.

“Itulah yang harus kita tanam hari ini. Mudah-mudahan, Mbak Nining dan semuanya, festival film ini nanti menjadi oase yang bisa menjadi sarang air kehidupan, bisa menjadi sumber inspirasi, apalagi tadi kita sudah mulai untuk menjalankan Al-Qur’an, kita sudah mulai untuk mendorong lahirnya. Sekali lagi, bukan memindahkan kisah Al-Qur’an ke dalam film, bukan. Bukan memindahkan kisah di dalam Al-Qur’an kemudian ditulis skenarionya. Tapi setiap santri diajak berpikir, ditantang berpikir,” lanjut Neno.

Dari sisi teknis, Pengelola Program SANFFEST, Fadhli Sapawie, menjelaskan bahwa strategi tahun ini berfokus pada film pendek dengan batasan durasi 7 hingga 12 menit guna melatih kemampuan bertutur (storytelling) para peserta secara tajam dan disiplin.

“Jadi tajam tadi, memang kita fokus ke film pendek, walaupun kita harapannya mungkin di beberapa tahun ke depan mulai film pendek yang lebih panjang. Karena kita di tahun ini maksimal 12 menit, minimal 7 menit. Nah, harapannya mungkin di beberapa tahun lagi sampai 40 menit. Ada yang memisahkannya di 40 menit, ada yang memisahkannya di 50 menit,” jelas Fadhli.

Ia menambahkan, pemilihan durasi singkat ini sengaja dirancang untuk tujuan strategis.

“Tapi secara strategis, tujuan Sanfest itu fokus di film pendek dan lebih pendek lagi maksimal 12 menit, di antara eh durasi sebenarnya untuk melatih otot-otot storytelling para santri,” tambahnya.

Mengenai penentuan tema The Verses in Motion (serta konsep The Verses Emotion), Festival Director SANFEST 2026, Gus Ahmad menjelaskan bahwa ide tersebut berawal dari filosofi Rasulullah IS the living Quran. Ia berharap kedekatan santri dengan Al-Qur’an di pesantren dapat ditransformasikan ke dalam karya visual.

“Saya ingin melanjutkan apa yang disampaikan oleh Bunda Neno tadi, kenapa kami memilih tema The Verses Emotion, sebenarnya basisnya kan kita biasa mendengar misalnya Rasulullah Muhammad is the living Quran, gitu,” ujar Gus Ahmad.

Gus Ahmad menambahkan, para santri diharapkan tidak sekadar membaca atau menghafal, tetapi juga mampu menginterpretasikan nilai-nilai suci tersebut ke dalam karya sinematik.

“Jadi kami berharap santri-santri ini yang tadi disampaikan Bunda Neno yang kesehariannya, menjadi mengakrabi ayat, gitu. Itu tidak hanya mengakrabi, tapi juga menginterpretasikan, sehingga film ini akan memancarkan the living verses, the verses emotion,” jelasnya.

Melengkapi perspektif tersebut, Niniek L. Karim membagikan pesannya mengenai pentingnya memahami karakteristik penonton sebagai makhluk berpikir dan berperasaan.

“Saya cuma mengingatkan sekali lagi bahwa penonton itu adalah makhluk berpikir, makhluk yang mempunyai perasaan, dan makhluk yang kemudian memberikan sikap pada yang ditonton. Itu mudah-mudahan para santri ini adalah makhluk-makhluk yang berpikir, merasakan, kemudian bersikap sehingga membuat film-filmnya bisa masuk di akal dan bisa diterima oleh para penontonnya. Terima kasih,” tutup Niniek.

Aktor sekaligus sutradara Syakir Daulay membagikan pandangannya mengenai perkembangan industri film Indonesia saat ini. Sebagai sosok yang aktif bergelut di dunia seni peran dan sinematografi, ia mengapresiasi kemajuan pesat dari segi teknis hingga kualitas akting para pemeran di Tanah Air.

Meski demikian, Syakir menilai masih ada ruang besar yang perlu ditingkatkan, khususnya dalam hal penyampaian narasi dan bobot cerita yang disajikan.

“Syakir pun sebagai penikmat film merasakan film-film Indonesia sekarang, kita memiliki teknis, aktor, dan visual yang kuat, tapi mungkin kita kurang memiliki kedalaman dalam storying, dalam cerita. Dan aku berharap semoga kelak lahir dari Sanfest ini cerita-cerita yang ciamik secara kaidah film, secara penyutradaraan, secara teknisnya juga, tapi punya kedalaman story atau kedalaman cerita yang luar biasa juga. Gitu,” ujar Syakir.

Melalui gelaran Santri Film Festival (Sanfest), ia menaruh harapan besar agar para santri mampu melahirkan karya-karya sinematik yang tidak hanya unggul secara visual dan teknis, tetapi juga memiliki kedalaman makna serta pesan spiritual yang kuat bagi para penontonnya.

Info lebih lanjut ke website resmi Sanfest 2026 https://sanffest.com/

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

Sebanyak 3.000 Peserta Ramaikan Haornas Jatim 2026, Olahraga Inklusif Tak Lagi Sekadar Seremonial

21 Sep 2026 - 19:10 WIB

Sebanyak 3.000 Peserta Ramaikan Haornas Jatim 2026, Olahraga Inklusif Tak Lagi Sekadar Seremonial

Pasar Murah ke-139 Digelar di Mojokerto, Pemprov Jatim Tekan Harga Bapok dan Jaga Daya Beli

19 Sep 2026 - 19:19 WIB

Pasar Murah ke-139 Digelar di Mojokerto, Pemprov Jatim Tekan Harga Bapok dan Jaga Daya Beli

Sebut Tebang Pilih Aturan Izin Bangunan, Handiyana Tantang Ketegasan Wali Kota Depok

19 Sep 2026 - 14:40 WIB

Sebut Tebang Pilih Aturan Izin Bangunan, Handiyana Tantang Ketegasan Wali Kota Depok

Pesta Sastra Pelajar Jaksel 2026 Siap Digelar: Ruang Ekspresi Generasi Muda dan Komunitas

18 Sep 2026 - 21:53 WIB

Pesta Sastra Pelajar Jaksel 2026 Siap Digelar: Ruang Ekspresi Generasi Muda dan Komunitas

Sebanyak 7.223 Rumah di Sidoarjo Teraliri Jargas, Pemkab Usulkan 10.500 Sambungan Baru

18 Sep 2026 - 21:49 WIB

Sebanyak 7.223 Rumah di Sidoarjo Teraliri Jargas, Pemkab Usulkan 10.500 Sambungan Baru

Perkuat Manajemen Bencana, BPBD Jatim Gandeng Unhan RI

17 Sep 2026 - 20:03 WIB

Perkuat Manajemen Bencana, BPBD Jatim Gandeng Unhan RI
Trending di PERISTIWA