Menu

Mode Gelap
Gubernur Khofifah Bersama Forkopimda Tinjau Pengamanan Natal 2025 di Surabaya Pastikan Perayaan Natal 2025 Berjalan Aman, Forkopimda Sidoarjo Pantau Gereja Proyek Rehabilitasi dan Renovasi Madrasah PHTC Jatim 2 Tahap Finishing, Addendum 14 Hari  Kominfo Jatim Evaluasi Pengelolaan SP4N LAPOR!, Dorong Peningkatan Status Kabupaten/Kota Bupati Sidoarjo Tinjau Longsor Bantaran Sungai di Desa Temu, Instruksikan Penanganan Darurat Perkuat Tata Kelola Digital, Ribuan Desa di Jawa Timur Terima Hibah Komputer dari Korsel

PERISTIWA

Arumi Bachsin: Keluarga Benteng Utama Lindungi Anak dari Risiko Dunia Digital

Avatar photobadge-check


					Arumi Bachsin Keluarga Benteng Utama Lindungi Anak dari Risiko Dunia Digital Perbesar

Arumi Bachsin Keluarga Benteng Utama Lindungi Anak dari Risiko Dunia Digital

SURABAYA, transnews.co.id – Ketua Tim Penggerak PKK Jawa Timur, Arumi Bachsin Emil Dardak menegaskan bahwa keluarga merupakan benteng utama dalam melindungi anak dari berbagai risiko dunia digital yang semakin masif.

Karena itu, ia mengajak para orang tua untuk aktif mendampingi serta membekali anak dengan literasi digital agar dapat tumbuh dan berkembang secara aman di era teknologi. Hal tersebut disampaikan Arumi saat menjadi keynote speaker dalam kegiatan “Bijak Digital, Anak Terlindungi” yang diselenggarakan PP Tunas di Surabaya, Minggu (7/6/2026).

Kegiatan yang mengangkat tema perlindungan anak di era digital itu diikuti ratusan peserta dari berbagai organisasi perempuan dan elemen masyarakat di Jawa Timur.

Hadir dalam acara tersebut perwakilan Muslimat NU, Fatayat NU, PKK, organisasi perempuan, tenaga pendidik, hingga pegiat perlindungan anak yang memiliki perhatian terhadap isu pengasuhan dan keamanan anak di ruang digital.
Selain menghadirkan Arumi Bachsin, kegiatan ini juga menghadirkan Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Jawa Timur, Sherlita Ratna Dewi Agustin, yang memaparkan pentingnya literasi digital bagi keluarga Indonesia.

Dalam sambutannya, Arumi mengatakan perkembangan teknologi digital yang berlangsung sangat cepat menghadirkan tantangan baru bagi keluarga. Menurutnya, laju perkembangan teknologi sering kali melampaui kemampuan orang tua maupun regulasi untuk mengimbanginya.

“Perkembangan teknologi saat ini luar biasa cepat. Kadang-kadang lebih cepat dibandingkan perkembangan aturan maupun kemampuan kita sebagai orang tua untuk mengikutinya. Karena itu, peran keluarga menjadi sangat penting dalam mendampingi anak-anak,” ujarnya.

Ia mengakui adanya kesenjangan generasi dalam memahami perkembangan teknologi. Anak-anak saat ini, lanjutnya, merupakan generasi yang lahir dan tumbuh di era digital sehingga memiliki kemampuan beradaptasi dengan teknologi jauh lebih cepat dibandingkan orang tua.

“Anak-anak sekarang tidak perlu diajari terlalu banyak. Mereka sudah lahir di zamannya. Mereka bisa memahami teknologi dengan sangat cepat sehingga kita sebagai orang tua tidak boleh meremehkan kemampuan mereka,” katanya.

Arumi kemudian memaparkan sejumlah data yang menunjukkan tingginya paparan teknologi digital pada anak-anak Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024, sebanyak 39,71 persen anak usia dini telah menggunakan telepon seluler dan 35,57 persen telah mengakses internet.

Bahkan, sebanyak 5,88 persen anak berusia di bawah satu tahun sudah menggunakan gawai dan 4,33 persen telah mengakses internet. Pada kelompok usia 1 hingga 4 tahun, sebanyak 37,02 persen anak menggunakan telepon genggam, sedangkan pada usia 5 hingga 6 tahun angkanya mencapai 58,25 persen.

“Data ini menjadi alarm bagi kita semua bahwa paparan teknologi terhadap anak terjadi semakin dini. Karena itu, pengawasan dan pendampingan orang tua menjadi sangat penting,” ungkapnya.

Arumi juga mengutip hasil penelitian Universitas Negeri Surabaya tahun 2024 terhadap 355 siswa SMP berusia 12 hingga 15 tahun. Hasil penelitian tersebut menunjukkan rata-rata anak menghabiskan waktu sekitar 5,9 jam per hari atau 41,3 jam per minggu di depan layar.

Sebagian besar penggunaan gadget dilakukan pada malam hari dengan persentase mencapai 70,7 persen. Sementara itu, 91,5 persen penggunaan perangkat digital dimanfaatkan untuk media sosial dan bermain gim, sedangkan hanya 8,5 persen digunakan untuk kegiatan belajar.

Menurut Arumi, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian serius karena penggunaan layar secara berlebihan dapat berdampak pada kesehatan fisik maupun mental anak. Dampak yang ditimbulkan antara lain gangguan postur tubuh, berkurangnya aktivitas fisik, gangguan tidur, hingga ketidakstabilan emosi.

Selain itu, paparan gadget yang berlebihan juga berpotensi menurunkan kemampuan anak dalam bersosialisasi dan berkomunikasi secara langsung dengan lingkungan sekitarnya.

“Anak-anak terlihat sibuk saat memegang gadget, tetapi secara emosional bisa merasa kesepian karena kurangnya interaksi sosial secara langsung. Padahal manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan komunikasi dan hubungan nyata dengan lingkungan sekitarnya,” jelasnya.

Sementara itu, Sherlita Ratna Dewi Agustin menegaskan bahwa literasi digital tidak hanya sebatas kemampuan mengoperasikan perangkat teknologi, tetapi juga mencakup kemampuan berpikir kritis dan bertanggung jawab dalam berinteraksi di ruang digital.

Menurutnya, anak-anak perlu dibekali kemampuan memahami risiko digital, menjaga keamanan diri, menghormati orang lain, serta memahami konsekuensi dari setiap aktivitas yang dilakukan di internet.

“Literasi digital bukan sekadar mampu menggunakan gawai, tetapi kemampuan berpikir kritis, menjaga diri, menghormati orang lain, dan bijak dalam setiap jejak digital. Kita tidak membatasi anak dari teknologi, tetapi membekali mereka agar mampu menggunakan teknologi secara aman, cerdas, produktif, dan bertanggung jawab,” tegas Sherlita.

Arumi juga mengingatkan berbagai ancaman yang mengintai anak di ruang digital, mulai dari perundungan siber (cyberbullying), paparan konten negatif, penipuan daring, hingga berbagai bentuk eksploitasi yang menyasar anak-anak.

Karena itu, ia menekankan pentingnya peran orang tua untuk tidak sekadar memberikan akses teknologi kepada anak, tetapi juga hadir sebagai pendamping yang aktif. Orang tua perlu membangun komunikasi yang terbuka, menetapkan batasan penggunaan gadget, serta menjadi teladan dalam penggunaan teknologi yang sehat dan bertanggung jawab.

“Teknologi bukan sesuatu yang harus dijauhi, tetapi harus digunakan secara bijak. Yang terpenting adalah bagaimana kita memastikan teknologi dapat mendukung tumbuh kembang anak, bukan justru mengurangi kualitas masa kecil mereka,” tuturnya.

Menutup sambutannya, Arumi mengajak seluruh elemen masyarakat, mulai dari keluarga, sekolah, komunitas hingga pemerintah untuk bersama-sama menciptakan ruang digital yang aman, sehat, dan ramah anak.

“Teknologi harus memanusiakan manusia, bukan menukarkan masa kecil anak-anak kita. Mari bersama-sama melindungi anak-anak agar mereka dapat tumbuh dengan sehat, aman, dan bahagia di era digital,” pungkasnya.

Baca Lainnya

Bambang Sutopo Komisi C DPRD Depok Dorong Percepatan Pengolahan Sampah di TPA Cipayung Menjadi RDF

8 Juni 2026 - 19:54

Tapaki Babak Baru, SWI Tetapkan Struktur Pengurus Pusat Periode 2026-2031

8 Juni 2026 - 19:13

Pemkab Sidoarjo Perkuat TPS 3R dan Sistem Digital, Antisipasi Krisis Sampah TPA Jabon

8 Juni 2026 - 18:43

Tirta Kahuripan Ikut Ambil Bagian dalam Gelaran KaBogor Fest 2026

8 Juni 2026 - 17:10

News Trending DAERAH