JAKARTA, transnews.co.id – Program Jangkar Asa yang digagas oleh mahasiswa/i LSPR Institute of Communication & Business sukses melaksanakan seluruh rangkaian kegiatan pembangunan masyarakat di Kampung Marunda Pulo, Cilincing, Jakarta Utara, pada 6–7 Juni 2026.
Mengusung tema “Perahu Kite: Merakit Harapan Pesisir Marunda”, program ini menjadi bukti nyata bahwa kolaborasi antara dunia akademik dan komunitas lokal mampu menghasilkan perubahan yang bermakna dan berkelanjutan.
Selama dua hari, ratusan warga RT 01 dan RT 02 Kampung Marunda Pulo mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang tua—terlibat aktif dalam serangkaian kegiatan yang dirancang untuk meningkatkan kesadaran lingkungan, memperkuat budaya lokal, dan mendorong literasi digital.

Rangkaian kegiatan dibuka secara resmi pada Sabtu, 6 Juni 2026, di lapangan Kampung Marunda Pulo. Acara diawali dengan menyanyikan lagu Kebangsaan Indonesia Raya dan Hymne LSPR, dilanjutkan dengan sambutan dari:
-
Najwa Fakhira (Ketua Pelaksana Jangkar Asa)
-
Bapak Fajar Iqbal Mirza, M.Si. (Dosen Pengampu Mata Kuliah)
-
Dr. Joe Harrianto, M.Si. (Kepala Program Studi Ilmu Komunikasi LSPR)
-
Bapak Sugiyanto (Ketua RT 02 Kampung Marunda Pulo)
-
Ibu Menah Suprianah, S.Sos., M.H. (Kepala Ekonomi & Pembangunan Kelurahan Marunda)
Momen istimewa pembukaan ditandai dengan penyerahan enam tong sampah terpilah (4 organik dan 2 anorganik) dari Suku Dinas Lingkungan Hidup (Sudin DLH) Jakarta Utara sebagai wujud dukungan nyata pemerintah.
-
Penyuluhan Pengelolaan Sampah (Orang Tua): Dipandu oleh Bapak Muhamad Ivan, S.T., M.M. dan Bapak Muhamad Amin, S.AP., M.A. (Sudin DLH Jakut). Materi fokus pada jenis sampah, pemilahan rumah tangga, bahaya membakar sampah, dan peran orang tua sebagai teladan.
-
Edukasi Sampah Interaktif (Anak-Anak): Diisi dengan pemutaran video, diskusi terbuka, dan lomba mengumpulkan sampah plastik yang berlangsung antusias.
-
Fun Learning Eco Enzyme (Semua Usia): Praktik langsung pembuatan eco enzyme lewat sistem estafet kelompok bersama Ibu Tjiu Merawati, B.Sc. dan Ibu Ni Luh Artini, S.E. dari Eco Enzyme Nusantara.
-
Edukasi Media Sosial (Remaja): Menghadirkan Bapak Andreas Humala, M.Si., yang mengulas etika bermedia sosial, pengembangan konten Instagram, dan pelatihan video pendek.
-
Pelestarian Permainan Tradisional: Mengajak anak-anak bernostalgia dan bermain Gobak Sodor, Bentengan, serta Ular Naga untuk menjaga budaya lokal Betawi.
Pada Minggu, 7 Juni 2026, kegiatan diawali dengan aksi Gotong Royong yang melibatkan warga, panitia mahasiswa, dan UPS Badan Air Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta.
Selama kurang lebih tiga jam, seluruh elemen masyarakat bahu-membahu membersihkan lingkungan pemukiman serta kolam. Sampah yang terkumpul dipilah dan langsung diangkut oleh armada UPS Badan Air.
Acara diakhiri secara emosional dengan penampilan tarian dari Karang Taruna, pemberian plakat penghargaan untuk warga RT 01 & RT 02, makan bersama, serta nonton film bareng sebagai simbol kekeluargaan yang erat.
Program Jangkar Asa 2026 berhasil mencatat sejumlah capaian penting:
-
Infrastruktur Baru: Penempatan 6 tong sampah terpilah di titik-titik strategis kampung.
-
Perubahan Perilaku: Meningkatnya kesadaran lingkungan warga lewat pendekatan edukasi yang interaktif.
-
Pemanfaatan Limbah: Warga kini memiliki keterampilan dasar mengolah limbah organik menjadi eco enzyme.
-
Cakap Digital: Remaja Marunda dibekali kemampuan mempromosikan potensi lokal lewat konten kreatif yang positif.
-
Sinergi Lintas Sektor: Terjalinnya kolaborasi solid antara akademisi, warga, pemerintah daerah, Dasawisma, hingga Karang Taruna.
Jangkar Asa tidak berhenti pada seremonial belaka. Sebagai langkah keberlanjutan, tim mahasiswa bersama warga merencanakan pembangunan dan revitalisasi Tempat Pembuangan Sementara (TPS) di Marunda Pulo. Revitalisasi ini mencakup penambahan kapasitas TPS dan pemasangan penutup agar lebih layak dan aman bagi warga sekitar.
Untuk merealisasikannya, program ini menyalurkan donasi stimulan sebesar Rp2.500.000 yang dialokasikan khusus untuk pembangunan fisik TPS tersebut. Through program ini, mahasiswa LSPR membuktikan bahwa pendidikan komunikasi tidak hanya selesai di ruang kelas, tetapi juga hidup dan berdampak langsung di tengah masyarakat.











