Menu

Mode Gelap
Gubernur Khofifah Bersama Forkopimda Tinjau Pengamanan Natal 2025 di Surabaya Pastikan Perayaan Natal 2025 Berjalan Aman, Forkopimda Sidoarjo Pantau Gereja Proyek Rehabilitasi dan Renovasi Madrasah PHTC Jatim 2 Tahap Finishing, Addendum 14 Hari  Kominfo Jatim Evaluasi Pengelolaan SP4N LAPOR!, Dorong Peningkatan Status Kabupaten/Kota Bupati Sidoarjo Tinjau Longsor Bantaran Sungai di Desa Temu, Instruksikan Penanganan Darurat Perkuat Tata Kelola Digital, Ribuan Desa di Jawa Timur Terima Hibah Komputer dari Korsel

DAERAH

Panen Raya Padi Biosalin di Jepara: Jawaban atas Tantangan Banjir Rob

Avatar photobadge-check


					Panen Raya Padi Biosalin di Jepara: Jawaban atas Tantangan Banjir Rob.  (Dok. Diskominfo Jepara) Perbesar

Panen Raya Padi Biosalin di Jepara: Jawaban atas Tantangan Banjir Rob. (Dok. Diskominfo Jepara)

JEPARA, transnews.co.id – Petani di wilayah pesisir Kabupaten Jepara mulai memanen padi varietas biosalin di tengah ancaman banjir rob yang kerap melanda.

Panen ini berlangsung di Desa Bandungharjo, Kecamatan Donorojo, Jumat (24/4/2026), sekaligus menjadi ajang uji coba bahan bakar alternatif berbasis sampah plastik untuk perahu nelayan dan alat pertanian.

Panen dilakukan di lahan seluas sekitar 10 hektare milik Kelompok Tani Jaya III. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program pengembangan kawasan ketahanan pangan dan energi terintegrasi di wilayah pesisir.

Panen Raya Padi Biosalin di Jepara: Jawaban atas Tantangan Banjir Rob. (Dok. Diskominfo Jepara)

Petani setempat, Zubaidi (55), mengungkapkan bahwa banjir rob masih menjadi tantangan utama, terutama pada musim tanam kedua. Air laut yang menggenangi lahan sering kali merusak tanaman padi.

“Kalau di pinggir pesisir, kena rob, padi tidak bisa hidup, langsung mati,” ujarnya.

Ia menambahkan, saat gagal panen, petani tidak memiliki banyak pilihan selain menunggu musim berikutnya.

“Kalau gagal ya tidak bisa apa-apa. Petani hanya pasrah,” katanya.

Bupati Jepara, Witiarso Utomo, menyatakan bahwa pengembangan padi biosalin difokuskan untuk lahan pesisir dengan tingkat salinitas tinggi.

Dengan garis pantai Jepara yang mencapai sekitar 82,7 kilometer, program ini dinilai strategis untuk meningkatkan produktivitas lahan.

“Program ini harus terus diteruskan agar lahan pesisir bisa dimanfaatkan secara optimal,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arif Satria, menjelaskan bahwa varietas padi biosalin dirancang khusus untuk kondisi tanah dengan kadar garam tinggi. Padi ini memiliki produktivitas sekitar 9 ton per hektare dengan masa tanam antara 84 hingga 107 hari.

Tak hanya itu, dalam kegiatan tersebut juga dilakukan uji coba bahan bakar alternatif dari sampah plastik melalui proses pirolisis cepat. Dari setiap satu kilogram plastik dapat dihasilkan sekitar satu liter bahan bakar yang disebut “petasol”.

“Satu kilogram plastik menjadi satu liter bahan bakar. Ini bisa digunakan untuk perahu nelayan dan alat pertanian,” jelas Arif.

Deputi Bidang Koordinasi Usaha Pangan dan Pertanian Kementerian Koordinator Pangan, Widiastuti, menilai inovasi padi biosalin membuka peluang baru dalam pemanfaatan lahan pesisir yang selama ini dianggap kurang produktif.

“Lahan pesisir yang selama ini dianggap marginal kini bisa dimanfaatkan untuk produksi pangan,” ujarnya.

Program ini diharapkan mampu menjadi solusi terpadu dalam menghadapi dampak perubahan iklim sekaligus meningkatkan ketahanan pangan dan energi di wilayah pesisir.

Baca Lainnya

Peringati HUT ke-18 Sekaligus Rangkaian HUT Depok, RSUD KiSA Ajak Masyarakat Budayakan Kepedulian Lewat Donor Darah

24 April 2026 - 18:49

Tirta Kahuripan Lakukan Penanganan Gangguan Air Bersih di Tarikolot

24 April 2026 - 18:32

Bupati Subandi Soroti Minimnya Serapan Produk UMKM Lokal oleh Sekolah di Sidoarjo

24 April 2026 - 18:24

Perkuat Manajemen Risiko, BRI BO Jepara Adakan Simulasi Mitigasi Kebakaran

24 April 2026 - 18:21

News Trending DAERAH