Resensi
Judul: Nyanyian Cinta dari Negeri Seberang (Catatan Kecil Seorang Pekerja Migran)
Penulis: Sus Woyo, S.Pd
Penerbit: Satria Publisher, Banyumas.
Cetakan: Pertama, tahun 2020.
Isi : 216 Halaman.
Rekam jejak adalah segala hal yang dilakukan seseorang di masa lalu dan dapat dijadikan teladan di masa sekarang.

Santri, menurut Gus Mus, bukan orang yang mondok saja, tetapi siapapun yang berakhlak santri, yang tawadhu (rendah hati) kepada Gusti Allah, tawadhu kepada orang lain. Sedangkan migran, orang yang bekerja di luar negeri.
Dalam buku ini, penulis tidak semata-mata mendedah banyak hal pengalaman berharga yang dialaminya sepanjang beraktivitas sebagai buruh di negeri Sultan Bolkiah (Jenderal Sultan Haji Sir Hassan Bolkiah Mui’zzudin waddaulah, sultan ke 29 yang dipertuan Brunei Darussalam, serta Perdana Menteri pertama Brunei Darussalam).
Penulis bukan satu-satunya WNI yang bekerja sebagai buruh di luar negeri, tetapi setelah membaca buku dari kumpulan olah kerja cerdasnya, boleh dibilang, penulis bukan buruh biasa. Melalui kelugasan dalam penyampaian bahasa tulis, nyata ia seorang santri (baca: orang shaleh). Lebih kongkrit, penjabaran bagaimana kesantrian , sebagaimana definisi Gus Mus, terpapar runut dan tergambar secara natural. Betapa kuat ilustrasi keteguhan imannya. Sketsa proses beramaliyah tercetak tegas. Keteguhan dalam berpihak kepada nilai-nilai Islam cukup kental, sebagai manifestasi keyakinan iman dalam ejawantah akhlak islami.
Tak heran, meski alasan tujuan bekerja ke manca negara begitu dramatik, terlebih dipadu dengan setting dalam panggung politik era peralihan orde baru ke masa reformasi dan setelahnya. Meski, cenderung sisi miris yang diungkap atas hal-hal subyektif, namun semua itu menjadi ayat yang fenomenal, bahwa setelah dihadapkan pada kesusahan, maka akan dianugerahi bermacam kemudahan. Bagi penulis, termasuk saya, anugerah tiada tara itu adalah ketika karya literasi telah berhasil dibukukan. Subhanallah.
Dalam buku ini dipilah menjadi lima bab. Tiap bab terdiri dari 8-11 judul, rata-rata perjudul 5 halaman uraian, jadi tidak terlalu bertela-tele dan mudah dicerna, karena disajikan secara ringan dan bertabur dalil naqli (qur’an hadis), serta petikan kalimat berhikmah yang bernas. Hal ini wajar, apalagi disebutkan oleh penulis bahwa tulisan ini era 2000-an pernah dimuat di media online, jadi boleh dibilang serupa artikel kreatif.
Di halaman-halaman awal, ada satu kisah yang sebenarnya sayang diceritakan hanya sepenggal, yakni kesempatan penulis sebagai buruh rendahan dapat kesempatan berjabat tangan (open house) dengan Sultan Bolkiah (hl.4).
Kolaborasi pencermatan memang tersaji di buku ini. Kecakapan menangkap fenomena, kejelian mengutip petuah, kefokusan merekam klip-klip kejadian, serta proses komunikasi yang rupanya terjalin dengan berbagai cara, telah membuat penulis memiliki banyak simpanan bekal untuk dijadikan bahan berkisah.
Betapa penulis kecewa, ketika suatu hari libur sudah diagendakan untuk ke warnet, browsing, menulis dan mengirimkannya ke media di Indonesia, ternyata yang terjadi malah harus kerja ekstra oleh majikan bahkan nyaris putus asa dan bersumpah serapah.
Banyak ditemui informasi menarik berkenaan dengan aktifitas buruh migran yang semata tidak hanya kisah dirinya, tetapi para kisah sesama buruh migran baik perseorangan maupun kelompok dengan ragam aktivitasnya. Sikap kritis penulis juga tergambar jelas, baik terhadap fenomena negeri islami yang tidak membumi dalam sikap dan akhlak warganya, bahkan terhadap artis negeri merah putih ketika diundang pentas nyanyi dan tersimpulkan bahwa ada fenomena yang kerap ‘munafik’ artis muslim itu? Bagai bunglon demi tujuan surga dunia (hl. 114).
Tanpa ingin tahu lebih detail tentang sisi negetaifnya, lebih baik kita setuju dengan apa yang ditulis dalam endorse lambar belakang, “ada sisi-sisi pisitif dan nilai-nilai perjuangan dalam setiap sosok pekerja migran. Mas Woyo menceritakan dalam buku ini,” tulis Advokat dan Aktifis Pekerja Migran Indonesia, Narsidah Sanwi. Silakan baca dan miliki bukunya, ya.*** (Hamidin Krazan)

Penulis saat bincang sama wartawan TN.











