Jakarta, Transnews.co.id – Pagi itu, tangan-tangan warga Kampung Tangguh RW 09 Kelurahan Penggilingan tampak cekatan menyiapkan media tanam. Di sela deretan pipa hidroponik, senyum mereka merekah bukan hanya karena tanaman yang tumbuh subur, tetapi karena harapan yang ikut berkembang di setiap sudut kampung.
Beberapa bulan lalu, lahan sempit di lingkungan ini belum dimanfaatkan secara optimal. Namun kini, berkat pendampingan Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT PLN (Persero) Unit Pelaksana Transmisi Pulogadung, wajah kampung berubah menjadi ruang produktif yang hijau dan bernilai.
“Dulu kami tidak menyangka pekarangan kecil bisa menghasilkan seperti ini,” ujar Widodo, salah satu warga penggagas urban farming di kampung tersebut. Ia menunjuk tanaman kangkung dan pakcoy yang siap panen dari sistem aquaponik. Hasilnya kini rutin dikonsumsi bersama keluarga, bahkan sebagian mulai dijual ke lingkungan sekitar.

Keberhasilan panen anggur pada Maret 2026 menjadi titik balik kepercayaan diri warga. Dari situ, mereka semakin yakin bahwa pertanian urban bukan sekadar wacana, melainkan peluang nyata untuk mandiri pangan di tengah keterbatasan lahan.
Kini, Semangat itu berlanjut melalui budidaya hidroponik. Warga belajar mulai dari proses dasar memasang kain panel ke dalam net pot hingga memahami cara merawat tanaman agar tumbuh optimal. Setiap tahap dijalani bersama, menjadikan kegiatan ini bukan hanya soal bertani, tetapi juga mempererat kebersamaan. “Yang terasa bukan hanya hasil panennya, tapi kebersamaannya. Kami jadi lebih kompak,” tambah Widodo.
Manager Unit Pelaksana Transmisi Pulogadung, Rizal Pahlevi, menyampaikan bahwa perubahan ini adalah hasil kolaborasi yang tumbuh dari partisipasi aktif masyarakat.
“Program ini bukan sekadar bantuan, tetapi upaya membangun kemandirian. Ketika masyarakat mampu mengelola dan merasakan manfaatnya secara langsung, di situlah keberlanjutan tercipta,” jelasnya.
Di kesempatan terpisah, General Manager PT PLN (Persero) Unit Induk Transmisi Jawa Bagian Barat (UIT JBB), Himmel Sihombing, menyampaikan bahwa program kampung binaan ini merupakan wujud nyata komitmen PLN dalam mendorong kemandirian masyarakat berbasis potensi lokal.
“Program Kampung Tangguh ini mencerminkan peran PLN yang tidak hanya menghadirkan listrik yang andal, tetapi juga memberikan nilai tambah bagi masyarakat. Kami percaya bahwa kemandirian pangan yang dibangun melalui pendekatan pemberdayaan akan menciptakan dampak berkelanjutan, baik dari sisi ekonomi, sosial, maupun lingkungan,” ujar Himmel.
“Ke depan, PLN UIT JBB akan terus memperkuat program TJSL yang berorientasi pada pemberdayaan masyarakat, sehingga dapat melahirkan lebih banyak komunitas yang mandiri, produktif, dan tangguh,” tambahnya.
Saat ini Kampung Tangguh RW 09 tidak hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga ruang belajar dan inspirasi. Dari pekarangan sederhana, warga membuktikan bahwa kemandirian pangan bisa dimulai dari langkah kecil, asal dilakukan bersama dan berkelanjutan.










