SURABAYA, transnews.co.id — Kepolisian Daerah Jawa Timur meningkatkan pengawasan di wilayah pesisir menyusul temuan narkotika jenis kokain dalam jumlah besar di Kabupaten Sumenep.
Kasus ini memperkuat dugaan bahwa jalur laut menjadi pintu masuk baru peredaran narkoba jaringan internasional ke Jawa Timur.
Kapolda Jatim, Irjen Pol Nanang Avianto, menegaskan bahwa panjangnya garis pantai Jawa Timur menjadi celah yang rawan dimanfaatkan pelaku penyelundupan. Wilayah pesisir yang relatif sepi justru dinilai menjadi titik lemah pengawasan.

“Wilayah pesisir yang relatif lebih sepi justru rawan dijadikan jalur penyelundupan. Ini menjadi perhatian khusus bagi kami,” ujarnya usai pemusnahan barang bukti narkoba di Mapolda Jatim, Senin (4/5/2026).
Sepanjang 2026, Ditreskoba Polda Jatim mencatat pengungkapan kasus dengan barang bukti signifikan, yakni 72,77 kilogram sabu, 37,9 kilogram ganja dan 53 batang tanaman, serta 22,22 kilogram kokain.
Dari pemetaan kerawanan, Surabaya menjadi wilayah dengan persentase kasus tertinggi mencapai 25,09 persen, disusul Malang dan Sidoarjo yang masuk kategori zona merah.
Namun, perhatian kini bergeser ke wilayah pesisir, terutama setelah ditemukannya kokain di Sumenep. Awalnya, paket tersebut memiliki berat kotor sekitar 27 kilogram karena bercampur pasir dan sampah laut. Setelah dibersihkan, berat bersih kokain mencapai 22,226 kilogram.
Kapolda menilai temuan ini sebagai anomali dalam peta peredaran narkoba di Jawa Timur. Selama ini, peredaran didominasi sabu, ganja, dan ekstasi.
Masuknya kokain yang dikenal berharga tinggi menjadi sinyal kuat adanya pergeseran pola jaringan.
“Ini jenis narkoba yang tidak seperti biasanya. Nilainya sangat mahal dan baru kali ini kami menemukan dalam jumlah seperti ini,” tegasnya.
Ia juga menekankan pentingnya pemusnahan segera terhadap barang bukti narkotika bernilai tinggi guna mencegah penyalahgunaan. Menurutnya, potensi penyimpangan sangat besar jika barang bukti tidak segera dimusnahkan.
Saat ini, Polda Jatim bersama Mabes Polri tengah mengembangkan penyelidikan untuk mengungkap jaringan di balik penyelundupan tersebut.
Analisis sementara mengarah pada jaringan internasional, mengingat kokain umumnya berasal dari Amerika Selatan, khususnya Kolombia.
“Kami menganalisa jaringan dari data kokain di Kolombia. Ini menjadi indikasi kuat adanya jalur perdagangan gelap internasional yang masuk ke perairan kita,” ungkapnya.
Kapolda juga mengajak masyarakat, khususnya di wilayah pesisir, untuk aktif melaporkan temuan mencurigakan. Peran publik dinilai krusial dalam mempersempit ruang gerak jaringan narkoba.
“Jika menemukan benda mencurigakan, segera laporkan kepada aparat terdekat agar bisa segera diamankan,” katanya.
Ia menegaskan, dampak narkoba sangat destruktif, terutama bagi generasi muda. Karena itu, upaya pencegahan harus dilakukan secara kolektif.
Polda Jatim, lanjutnya, berkomitmen memperkuat sinergi dengan berbagai instansi untuk menutup celah peredaran narkoba, khususnya melalui jalur laut.











