Unusa Jadikan RSI NAP Gresik Tempat Praktik Mahasiswa

  • Bagikan

 84 views

Gresik , Transnews.co.id – Yayasan Rumah Sakit Islam Surabaya (Yarsis) yang menaungi Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), kini memiliki satu rumah sakit lagi di Gresik. Rumah sakit tersebut diberi nama RSI Nyai Ageng Pinatih (RSI NAP).

Keberadaan rumah sakit baru tersebut, menambah kesempatan lebih luas lagi bagi mahasiswa Unusa dalam memilih tempat praktik. Sebelumnya Yarsis memiliki dua rumah sakit, yaitu RSI A. Yani dan RSI Jemursai keduanya berada di Surabaya.

Diketahui, sebelumnya nama rumah sakit tersebut adalah Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Nyai Ageng Pinatih Gresik. Yarsis mengubah menjadi RSI Nyai Ageng Pinatih dan menjadi rumah sakit umum tipe C. Perubahan tersebut, dimaksudkan untuk meningkatkan cakupan dan kualitas layanan kesehatan kepada masyarakat sekaligus tempat pembelajaran bagi mahasiswa kedokteran dan kesehatan, khususnya bagi mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA).

“Kami akan memperluas cakupan layanan dan kualitas kesehatan dan karenannya kami tingkatkan dari RSIA menjadi rumah sakit umum tipe C, dengan kapasitas tempat tidur sebanyak 107. Layanannya kami perluas dan kualitas kami tingkatkan,” kata Ketua Yarsis, Prof.
Mohammad Nuh,Sabtu (9/10/2021).

Dikatakan M Nuh, bahwa penggabungan RSIA Nyai Ageng Pinatih Gresik ke dalam Yarsis bersama-sama RSIS A.Yani dan RSIS Jemursari dimaksudkan, untuk memperkuat sinergi dan berbagi sumberdaya, dengan harapan mampu memberikan layanan maksimal kepada masyarakat Gresik dan sekitar. Dengan penggabungan ini, Yarsis sekarang mengelola tiga rumah sakit dan satu universitas, yaitu RSIS A. Yani Surabaya, RSIS Jemursari Surabaya, RSI Nyai Ageng Pinatih Gresik, dan Jelasnya.

Nuh menjelaskan, dengan berbekal pengalaman dan sumberdaya yang dimiliki, melalui kerjasama dengan PCNU-Muslimat, Yarsis akan terus mengembangkan Rumah Sakit di beberapa daerah. Ini semua dilakukan karena layanan kesehatan masih sangat terbatas dan harus ditingkatkan.

Sebagai gambaran, jumlah bed per seribu penduduk baru 1,18 bed. Di Asia (20 negara) rata-rata 3,3 bed per seribu penduduk. Demikian pula jumlah dokter,0 baru 0,4 dokter per seribu penduduk, sedangkan di Asia 1,2 dokter per seribu penduduk. “Inilah salah satu alasan mengapa kami berupaya terus mengembangkan rumah sakit di beberapa daerah melalui skema kerjasama dengan PCNU-Muslimat, sekaligus kita dedikasikan dalam rangka 100 tahun Nahdlatul Ulama,” katanya.

Karena keterbatasan lahan sekitar 3.000 m2, maka konsep RSI Nyai Ageng Pinatih mengambil Small in Modernity (kecil namun modern). Kamar Operasi misalnya, menggunakan kamar operasi berbasis MOT (Modular Operating Theater) dengan dual pressure, bisa memilih yang bertekanan negatif atau positif. Ini sangat dibutuhkan, khususnya saat Pandemi Covid.

“Kami bertekad untuk meningkatkan modernitas tersebut melalui kualitas infrastruktur, alat kesehatan, sistem informasi dan layanan, serta kualitas para dokter, tenaga kesehatan dan tenaga pendukung lainnya,” tambahnya.( HD).

  • Bagikan