Menu

Mode Gelap
Gubernur Khofifah Bersama Forkopimda Tinjau Pengamanan Natal 2025 di Surabaya Pastikan Perayaan Natal 2025 Berjalan Aman, Forkopimda Sidoarjo Pantau Gereja Proyek Rehabilitasi dan Renovasi Madrasah PHTC Jatim 2 Tahap Finishing, Addendum 14 Hari  Kominfo Jatim Evaluasi Pengelolaan SP4N LAPOR!, Dorong Peningkatan Status Kabupaten/Kota Bupati Sidoarjo Tinjau Longsor Bantaran Sungai di Desa Temu, Instruksikan Penanganan Darurat Perkuat Tata Kelola Digital, Ribuan Desa di Jawa Timur Terima Hibah Komputer dari Korsel

DAERAH

Peusaba Aceh Minta Bantuan Turki Menyelamatkan Situs Titik Nol Kesultanan Aceh Darussalam Di Gampong Pande

LOGOS TNbadge-check

TN.ACEH l – Ketua Peusaba Aceh Mawardi Usman meminta Turki agar dapat membantu penyelamatan Situs Sejarah di Gampong Pande.

Seperti diketahui Dalam Kitab Adat Aceh karangan Ismail bin Ahmad yang dikarang zaman Sultan Saiful Alam tahun 1811 bahwa pendiri Kesultanan Aceh Darussalam adalah Sultan Johan Syah yang datang dari Negeri atas Angin (Balabad) Seljuq Bagdad zaman Bani Abbasiyah yang kemudian pada tanggal 1 Ramadhan 601 Hijriah mendirikan Kesultanan Aceh Darussalam di Kandhang Aceh Gampong Pande.

Sumber sejarah Aceh menyebutkan 500 rombongan datang dari Bagdad dibawah Pimpinan Syeikh Abdurrauf Al Seljuqi Al Bagdadi yang merupakan Pangeran keturunan Sultan Turki Seljuq di Bagdad. Putra Beliau yang bernama Sultan Johan Syah Seljuq pada tahun 1205 membangun Kesultanan Aceh Darussalam yang giat menyebarkan Islam.

Gampong Pande adalah Titik Nol Kesultanan Aceh Darussalam juga Titik Nol Hubungan Aceh Turki. Pada Tahun 1567 Sultan Alaidin Riayat Syah Al Kahhar bin Sultan Ali Mughayat Syah mengirimkan Utusan Ke Istanbul sehingga dikirim perwira yang berdiam di Bitai dan mendirikan Ma’had Askery Baital Maqdis sedangkan pandai besi Turki membuat Meriam dan senjata di Gampong Pande makanya banyak makam Turki terdapat juga di Gampong Pande dan Gampong Jawa dan Bitai bahkan hingga ke Pedalaman Aceh karena Pandai Besi Turki mendidik Ahli besi di Aceh.

Kemudian pada Zaman Sultan Alaidin Riayat Syah Sayyidil Mukammil (1589-1604) bin Sultan Firman Syah Aceh mendapatkan kehormatan boleh memakai Bendera Turki di Kapal perang Aceh. Kemudian oleh Sultan Bendera Turki ditambah dengan pedang Itulah yang dikenal dengan nama Alam Peudeung Aceh yang kemudian menjadi bendera resmi Kesultanan Aceh Darussalam tanda Persaudaraan Aceh dan Turki.

Pada masa Sultan Iskandar Muda Hubungan Aceh dan Turki bertambah kuat. Karena itu Peusaba meminta Pihak Turki dapat membantu Aceh menyelamatkan situs sejarah Aceh yang amat penting di kawasan Gampong Pande dan Kutaraja.*** (Gam)

Baca Lainnya

Festival Musik Patrol Sidoarjo 2026 Meriah, Grup Coba Lagi Sedati Raih Piala Bergilir Bupati

16 Maret 2026 - 04:20

Khatmil Qur’an Pemprov Jatim, Khofifah Ajak Perkuat Ibadah dan Pengabdian untuk Masyarakat

14 Maret 2026 - 22:30

Wujudkan Kepedulian di Bulan Ramadhan, GWS Jepara Gelar Aksi Berbagi Takjil

14 Maret 2026 - 01:05

Pemkab Sidoarjo Kebut Perbaikan Jalan, Bupati Subandi Target Tuntas Sebelum Lebaran

14 Maret 2026 - 01:02

News Trending DAERAH