SIDOARJO, transnews.co.id – Potensi lapangan sepak bola desa di Kabupaten Sidoarjo mulai dilirik sebagai penggerak ekonomi sekaligus destinasi sport tourism.
Pemerintah Kabupaten Sidoarjo melalui Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) mendorong penguatan branding lapangan desa agar memberi nilai tambah bagi perekonomian masyarakat.
Kepala Diskominfo Sidoarjo, Eri Sudewo, menegaskan bahwa hampir seluruh desa di Sidoarjo telah memiliki lapangan sepak bola dengan kondisi yang semakin baik dalam beberapa tahun terakhir. Perawatan rumput yang optimal hingga fasilitas penerangan yang memadai menjadi modal kuat untuk dikembangkan.

“Dengan branding yang bagus, lapangan sepak bola desa dapat menjadi sport tourism atau wisata olahraga di Kabupaten Sidoarjo,” ujar Eri dalam diskusi bersama pengelola lapangan desa, Komisi B DPRD Sidoarjo, dan Forum Wartawan Sidoarjo (Forwas), Rabu (29/4/2026) malam.
Menurutnya, penguatan branding harus ditopang dengan konektivitas digital yang memadai. Untuk itu, Diskominfo terus memperluas akses internet hingga ke desa-desa, termasuk di area lapangan sepak bola.
“Kalau ada internet berkecepatan tinggi, masyarakat bisa membuat konten kreatif, promosi digital, hingga e-commerce tanpa terbebani biaya besar. Ini bisa mengangkat potensi desa,” jelasnya.
Eri juga menekankan pentingnya peran generasi muda dalam memanfaatkan teknologi secara produktif. Gadget tidak lagi sekadar alat hiburan, tetapi harus menjadi sarana untuk mempromosikan potensi desa, termasuk lapangan sepak bola.
“Tidak hanya lapangan bola, potensi lain juga bisa dikembangkan. Kami siap memfasilitasi,” tambahnya.
Dukungan serupa disampaikan Anggota Komisi B DPRD Sidoarjo, H. Sullamul Hadi Nurmawan. Ia menilai kualitas lapangan sepak bola desa di Sidoarjo sudah sangat layak dan memiliki daya tarik tinggi.
Menurutnya, aktivitas olahraga seperti pembinaan pemain muda dan penyelenggaraan kompetisi harus terus digalakkan agar memberikan dampak ekonomi langsung, khususnya bagi pelaku UMKM di sekitar lokasi.
“Kalau kompetisi rutin digelar, efeknya besar. UMKM hidup, ekonomi bergerak,” ujarnya.
Ia mencontohkan Lapangan Sepak Bola Pandansari di Bungurasih yang sempat viral karena kualitasnya. Dengan pengelolaan profesional dan kerja sama investasi penerangan, lapangan tersebut bahkan pernah menjadi tuan rumah ajang Super League.
“Pandansari itu contoh bagus. Dikelola serius, fasilitas lengkap, bahkan bisa kerja sama dengan pihak ketiga. Ini yang harus ditiru,” tegasnya.
Wawan sapaan Sullamul juga mengungkapkan bahwa lapangan desa di Sidoarjo telah menarik perhatian dari luar daerah. Sejumlah komunitas sepak bola dari daerah lain bahkan datang untuk menyewa lapangan.
“Ada tamu dari Lamongan yang kaget lihat lapangan di sini. Mereka bilang kualitasnya jauh lebih baik, mulai rumput hingga fasilitasnya,” katanya.
Ia pun mengajak para pemuda dan pengelola lapangan untuk aktif mempromosikan fasilitas yang dimiliki melalui media sosial. Upaya tersebut dinilai mampu meningkatkan daya tarik desa sekaligus memperkuat ekonomi lokal.
“Promosi itu penting. Kalau viral, orang datang. Kalau orang datang, ekonomi desa ikut bergerak,” pungkasnya.
Dengan dukungan infrastruktur, digitalisasi, dan promosi yang tepat, lapangan sepak bola desa di Sidoarjo diyakini tidak hanya menjadi sarana olahraga, tetapi juga motor baru pertumbuhan ekonomi berbasis desa.











