Menu

Mode Gelap
Gubernur Khofifah Bersama Forkopimda Tinjau Pengamanan Natal 2025 di Surabaya Pastikan Perayaan Natal 2025 Berjalan Aman, Forkopimda Sidoarjo Pantau Gereja Proyek Rehabilitasi dan Renovasi Madrasah PHTC Jatim 2 Tahap Finishing, Addendum 14 Hari  Kominfo Jatim Evaluasi Pengelolaan SP4N LAPOR!, Dorong Peningkatan Status Kabupaten/Kota Bupati Sidoarjo Tinjau Longsor Bantaran Sungai di Desa Temu, Instruksikan Penanganan Darurat Perkuat Tata Kelola Digital, Ribuan Desa di Jawa Timur Terima Hibah Komputer dari Korsel

PENDIDIKAN

UPER Hadirkan Kuliah Umum Cipta Karsa Bersama Pakar Analisis Media Digital

Avatar photobadge-check


					Foto bersama kegiatan kuliah Cipta Karsa bersama  Ismail Fahmi, Ph.D., Founder PT Media Kernels Indonesia (Drone Emprit) Perbesar

Foto bersama kegiatan kuliah Cipta Karsa bersama Ismail Fahmi, Ph.D., Founder PT Media Kernels Indonesia (Drone Emprit)

JAKARTA, transnews.co.id – Perhatian publik kembali tertuju oleh maraknya praktik street photography yang beredar melalui aplikasi berbasis AI, FotoYu. Aplikasi ini secara otomatis mendeteksi wajah seseorang dari berbagai foto yang diambil fotografer jalanan, lalu menampilkannya kepada pengguna sebagai konten yang dapat dibeli.

Meski terdengar inovatif, mekanisme ini menimbulkan kegelisahan baru: wajah seseorang, tanpa sepengetahuan atau persetujuan, dapat terjaring sistem, diolah oleh AI, dan diperdagangkan layaknya komoditas digital.

Polemik ini menjadi perdebatan antara kreativitas serta keamanan data biometrik dan hak individu atas identitas mereka sendiri. Biometrics & Digital Privacy Report (2025) menunjukkan bahwa foto wajah dapat digunakan untuk mengidentifikasi seseorang dengan akurasi hingga 98 persen, bahkan foto candid tetap mampu mengungkap identitas dengan akurasi mencapai 89 persen.

Melalui Kuliah Umum Cipta Karsa Universitas Pertamina, Ismail Fahmi, Ph.D., Founder PT Media Kernels Indonesia (Drone Emprit) sekaligus pakar analisis media dan kecerdasan buatan menyampaikan urgensi literasi privasi digital di Indonesia termasuk pemanfaatan data biometrik serta penggunaan AI dalam lingkungan bisnis.

Dalam pemaparannya, Ismail Fahmi menjelaskan bagaimana perkembangan kecerdasan buatan menciptakan industri baru yang sangat bergantung pada data publik.

“Industri yang mengadopsi AI tercatat tumbuh 3,2 kali lebih cepat. Namun, inovasi ini juga menciptakan risiko baru yaitu masalah privasi,”

“AI tidak hanya sekedar teknologi yang membantu namun kini menjadi partner strategis dalam pengembangan industri yang membutuhkan data dalam jumlah banyak untuk bekerja optimal, sehingga membuka potensi pemanfaatan biometrik yang tidak transparan,” ujar Fahmi.

Lebih lanjut, dalam risetnya melalui Drone Emprit, Fahmi menyoroti fenomena penjualan foto tersebut pada aplikasi FotoYu mendapatkan kekhawatiran publik karena eksploitasi data biometrik.

“Ketika wajah seseorang dapat ditangkap, diproses, dan dijual tanpa sepengetahuannya, kita tidak lagi berbicara sekadar soal foto, tetapi soal hak atas identitas. Inilah risiko nyata ketika teknologi berlari lebih cepat dari etika.”

Dosen Ilmu Komputer sekaligus ahli pada bidang pemrograman, Intan Oktafiani, S.Kom., M.T., menyampaikan bahwa foto wajah di ruang publik kini bukan lagi sekadar dokumentasi visual, tetapi aset biometrik yang memiliki nilai ekonomi dan risiko keamanan.

“Kasus penyalahgunaan foto wajah melalui praktik street photography ini menunjukkan bahwa data biometrik bukan lagi sekadar informasi tambahan, tetapi identitas inti seseorang,”

“Di Ilmu Komputer UPER, kami memiliki kekhususan peminatan Artificial Intelligence, yang membahas tidak hanya belajar menciptakan teknologi namun turut mempelajari sistem keamanan, transparansi, dan persetujuan data. Sebab, tanpa etika digital yang kuat, inovasi justru berpotensi merugikan masyarakat.”

Sementara itu, Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. Ir. Wawan Gunawan A. Kadir MS., IPU., menegaskan bahwa kegiatan Kuliah Umum Cipta Karsa yang diselenggarakan tersebut tidak hanya menjadi momentum dalam menambah ilmu mahasiswa, namun mahasiswa dapat belajar secara langsung dari para praktisi.

“Cipta Karsa menjadi sebuah bentuk penyelenggaraan pembelajaran yang mempertemukan mahasiswa dengan para praktisi langsung. Sehingga mahasiswa tidak hanya belajar melalui teori, tetapi juga mempelajari langsung bagaimana teknologi diterapkan, dikembangkan hingga dikritisi di dunia nyata,”

“Melalui kuliah umum ini mahasiswa akan mendapatkan perspektif lebih luas mengenai tantangan sosial serta membuka kesadaran dalam menciptakan inovasi yang relevan, adaptif dan lebih bertanggung jawab,” tutup Prof. Wawan.

Baca Lainnya

Guncang Madiun! Wali Kota Maidi Terjaring OTT KPK

19 Januari 2026 - 18:15

Foto: Maidi, Walikota Madiun

Bupati Subandi Hadiri Haul Masyayikh Al-Khoziny, Doakan Syuhada dan Perkuat Ukhuwah di Sidoarjo 

18 Januari 2026 - 19:28

Bupati Subandi Hadiri Haul Masyayikh Al-Khoziny, Doakan Syuhada dan Perkuat Ukhuwah di Sidoarjo 

Cegah Bentrok Antar Perguruan Silat, Polisi Amankan 18 Pemuda di Kedungdoro 

18 Januari 2026 - 01:11

Cegah Bentrok Antar Perguruan Silat, Polisi Amankan 18 Pemuda di Kedungdoro 

Gus Ipul Tegaskan, Sekolah Rakyat Instrumen Negara Lawan Kemiskinan 

18 Januari 2026 - 01:08

Gus Ipul Tegaskan, Sekolah Rakyat Instrumen Negara Lawan Kemiskinan 
News Trending PENDIDIKAN