JAKARTA, transnews.co.id – Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan garis pantai sepanjang 108.000 kilometer, Indonesia menggantungkan ketahanan pesisirnya pada ekosistem mangrove.
Namun, benteng alami ini sedang berada dalam kondisi yang mengkhawatirkan. Masifnya alih fungsi lahan, abrasi, hingga tingginya intensitas pencemaran limbah menyebabkan sedikitnya 1,8 juta hektare kawasan pesisir Indonesia berada dalam kondisi kritis dan memerlukan rehabilitasi.
Persoalannya, upaya rehabilitasi skala besar sering kali terkendala oleh sulitnya memantau kesehatan bibit secara konsisten di area seluas itu.

Merespons kedaruratan ekologis ini, dua mahasiswa Universitas Pertamina (UPER) dari lintas disiplin ilmu, Muzaki Ahmad Fathir (Ilmu Komputer) dan Muhammad Hasyim Hudoyo (Teknik Lingkungan), berkolaborasi menghadirkan inovasi MOPI (Monitoring of Mangrove Plantation Indicator).
Alat berbasis Internet of Things (IoT) ini dirancang untuk mengubah pola pemantauan manual yang lambat menjadi sistem digital presisi, sehingga setiap titik kritis di jutaan hektar pesisir tersebut dapat dipantau secara real-time demi menjamin keberhasilan restorasi.
“Selama ini, pemantauan kondisi kawasan mangrove dilakukan secara manual dan sporadis, sehingga sulit mendeteksi perubahan kualitas lingkungan secara dini,”
“MoPi lahir dari keyakinan kami bahwa teknologi seharusnya hadir tidak hanya untuk industri, tetapi juga untuk alam,” ungkap Hasyim.
Keyakinan itu diwujudkan dalam dua bentuk yang saling terhubung: perangkat fisik yang dipasang di lapangan dan aplikasi pendamping untuk memantau datanya.
Pada sisi aplikasi, MoPi hadir dengan tiga fitur unggulan yang saling melengkapi. Fitur Home menyajikan informasi umum ekosistem mangrove.
Fitur Dashboard Monitoring menampilkan hasil pengukuran pH air dan kelembaban tanah secara real-time, lengkap dengan grafik historis 24 jam terakhir.
Sementara fitur Mapping System memungkinkan visualisasi lokasi titik pemasangan alat secara spasial, lengkap dengan data kondisi tiap titik, sehingga memudahkan koordinasi pengelolaan kawasan mangrove dalam skala yang lebih luas.
Secara sederhana, MoPi bekerja dengan memantau dua kondisi penting bagi pertumbuhan mangrove, yaitu tingkat keasaman air (pH) dan kelembapan tanah.
Data dari sensor tersebut kemudian diolah oleh perangkat mikrokontroler, yakni komponen elektronik yang berfungsi sebagai pusat pengendali atau “otak” alat, sebelum dikirim secara nirkabel melalui internet ke sistem penyimpanan data.
Dengan cara ini, kondisi lingkungan mangrove dapat dipantau secara real-time melalui aplikasi di ponsel, sehingga proses monitoring tidak lagi harus dilakukan sepenuhnya secara manual di lapangan.
“Karena datanya dikirim secara nirkabel, alat ini tetap dapat digunakan bahkan di kawasan mangrove yang terpencil dan sulit dijangkau,” ujar Hasyim.
Berkat inovasi tersebut, Hasyim dan Muzaki berhasil meraih Silver Medal dalam ajang Naturaco Riset “Malang Edufest” 2026 yang diselenggarakan pada 23–24 Mei 2026, setelah bersaing dengan lebih dari 100 tim dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
Pjs. Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. Ir. Djoko Triyono, M.Si., menyampaikan bahwa inovasi seperti MoPi mencerminkan pendekatan pembelajaran lintas disiplin yang terus didorong di Universitas Pertamina.
Menurutnya, tantangan masa depan, mulai dari isu lingkungan hingga transisi energi, tidak dapat diselesaikan dari satu bidang ilmu saja.
“Di Universitas Pertamina, mahasiswa dibiasakan bekerja lintas disiplin melalui berbagai proyek kolaboratif, termasuk capstone project dan proyek multidisiplin,”
Harapannya, mahasiswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu melihat keterkaitan antara teknologi, lingkungan, dan tantangan pembangunan berkelanjutan,”
“Inovasi seperti MoPi menjadi contoh bagaimana kolaborasi tersebut dapat melahirkan solusi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat,” jelas Prof. Djoko.












