Menu

Mode Gelap
Gubernur Khofifah Bersama Forkopimda Tinjau Pengamanan Natal 2025 di Surabaya Pastikan Perayaan Natal 2025 Berjalan Aman, Forkopimda Sidoarjo Pantau Gereja Proyek Rehabilitasi dan Renovasi Madrasah PHTC Jatim 2 Tahap Finishing, Addendum 14 Hari  Kominfo Jatim Evaluasi Pengelolaan SP4N LAPOR!, Dorong Peningkatan Status Kabupaten/Kota Bupati Sidoarjo Tinjau Longsor Bantaran Sungai di Desa Temu, Instruksikan Penanganan Darurat Perkuat Tata Kelola Digital, Ribuan Desa di Jawa Timur Terima Hibah Komputer dari Korsel

NASIONAL

Keren! Mahasiswa UPER Sulap Limbah Minyak Jelantah Jadi Pembersih Sepatu Kece

Avatar photobadge-check


					Keren! Mahasiswa UPER Sulap Limbah Minyak Jelantah Jadi Pembersih Sepatu Kece. (Dok. Hum. UPER) Perbesar

Keren! Mahasiswa UPER Sulap Limbah Minyak Jelantah Jadi Pembersih Sepatu Kece. (Dok. Hum. UPER)

JAKARTA, transnews.co.id – Sekitar sepertiga minyak jelantah yang dihasilkan di Indonesia setiap tahun belum berhasil dimanfaatkan kembali. Dari estimasi 200.000–300.000 ton minyak jelantah yang dihasilkan, sekitar 100.000 ton di antaranya masih terbuang atau tidak terkumpul.

Kondisi tersebut mendorong empat mahasiswa Program Studi Ekonomi Universitas Pertamina, Azrina Rahmah, Nurhalizah, Ariens Traiyu Pudita, dan Aisyah Fitryah, mengembangkan ReSoleve, produk perawatan sepatu 2-in-1 berbahan dasar minyak jelantah yang menggabungkan pembersih sepatu (foam cleaner) dan balsam kulit sepatu (leather balm).

Berbeda dari produk sejenis, ReSoleve memanfaatkan minyak jelantah yang telah dimurnikan dan dipadukan dengan ekstrak daun marjoram serta bunga sedap malam sebagai pewangi alami.

Melalui inovasi tersebut, Tim ReSoleve berhasil memperoleh pendanaan Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) 2026 yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Tim ini lolos setelah bersaing dengan 3.005 proposal dari 570 perguruan tinggi di seluruh Indonesia pada proses seleksi April–Juni 2026. Pendanaan tersebut akan dimanfaatkan untuk meningkatkan kapasitas produksi sekaligus memperluas pemasaran ReSoleve melalui berbagai platform digital.

“Kami melihat minyak jelantah bukan sekadar limbah, tetapi sebagai sumber daya yang masih memiliki potensi untuk diolah menjadi produk bernilai tambah. Melalui ReSoleve, kami ingin menunjukkan bahwa konsep ekonomi sirkular dapat diterapkan melalui inovasi sederhana yang bermanfaat bagi masyarakat maupun lingkungan,” ujar Nurhalizah.

Untuk memastikan aman digunakan sebagai bahan baku, minyak jelantah terlebih dahulu dimurnikan melalui beberapa tahapan, mulai dari penyaringan sisa makanan, penghilangan bau dan warna, hingga penetralan zat-zat yang terbentuk akibat penggunaan berulang. Setelah itu, minyak diolah menjadi dua produk, yaitu foam cleaner (pembersih sepatu) dan leather balm (balsam kulit sepatu).

“Pada pembersih sepatu, minyak jelantah yang telah dimurnikan diolah menggunakan kalium hidroksida (KOH) sehingga menghasilkan bahan pembersih yang mampu mengangkat kotoran. Kami kemudian menambahkan ekstrak daun marjoram dan bunga sedap malam sebagai pewangi alami agar produk tidak hanya efektif membersihkan, tetapi juga memiliki aroma yang lebih segar. Sementara itu, balsam kulit sepatu dibuat dengan memadukan minyak jelantah murni dan beeswax (lilin lebah) untuk membantu menjaga kelembapan serta kilau kulit sepatu,” jelas Nurhalizah.

Dosen pendamping Tim ReSoleve, Rico Ricardo, S.E., M.Ec., menilai keberhasilan memperoleh pendanaan P2MW menjadi bukti bahwa inovasi mahasiswa memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi usaha berkelanjutan.

“Pendanaan sebesar Rp10 juta akan dimanfaatkan untuk meningkatkan kapasitas produksi serta memperluas pemasaran melalui media sosial dan platform e-commerce. Berdasarkan rencana bisnis yang telah disusun, ReSoleve diproyeksikan mampu menghasilkan keuntungan sekitar Rp14 juta per bulan,” kata Rico.

Inovasi ReSoleve selaras dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-12, yaitu Responsible Consumption and Production. Pjs. Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. tech. Djoko Triyono, M.Si., menyatakan apresiasi mendalam atas capaian mahasiswa dalam mengintegrasikan kepedulian lingkungan ke dalam praktik wirausaha.

“Tidak hanya didukung oleh proses pembelajaran khususnya melalui peminatan Energy Economy and Sustainability pada Program Studi Ekonomi UPER, mahasiswa juga mendapatkan pendampingan wirausaha melalui program Inkubasi Bisnis UPER. Saat ini telah memberikan pendampingan kepada 62 tim dengan total pendanaan mencapai Rp180 juta,” tutup Prof. Djoko.

Baca Lainnya

Dispendik Jember Tegaskan Larangan Jual LKS dan Seragam di Sekolah, Pelanggar Terancam Sanksi

6 Juli 2026 - 07:50

Pakar UPER Ungkap Potensi Fenomena Gempa Ganda di Indonesia

6 Juli 2026 - 07:41

PLN Siap Jalankan Kebijakan Pemerintah dan Jaga Kualitas Layanan ke Masyarakat

3 Juli 2026 - 18:30

PLN Peduli Hadirkan Ruang Produktif di Bawah Jalur Transmisi untuk Tingkatkan Kesejahteraan Masyarakat

3 Juli 2026 - 17:20

News Trending EKBIS