Demi Menjaga Marwah Aceh, Areal Cagar Budaya Makam Sultan Sayyid Jamalul Alam Badrul Munir Jamalullail Harus Ditertibkan

237 seconds reading this post

TN.ACEH l — Kawasan Situs sejarah dan cagar budaya Makam Sultan Sayyid Jamalul Alam Badrul Munir Jamalullail ramai dikunjungi peziarah sejak dulu. Letaknya yg strategis hanya beberapa meter dari masjid kebanggaan rakyat Aceh Masjid Raya Baiturrahman dan banyaknya peziarah yang datang membuat beberapa pihak mulai ramai berjualan bahkan akhirnya membangun bangunan permanen sebagai tempat berjualan.

Sekarang di Cagar budaya yang merupakan tanah waqaf keluarga Sultan Sayyid Jamalul Alam Badrul Munir Jamalullail ini sudah di bangun kedai, rumah, hotel dan lain sebagainya sehingga tanah waqaf yang semula berisikan beberapa makam keluarga Sultan Sayyid Jamalul Alam Badrul Munir Jamalullail seluas kurang lebih 40 x 50 meter, sesuai dengan peta yang dibuat oleh Belanda tahun 1874 kini hanya tersisa kurang dari 2 x 1,5 meter saja dan hanya tersisa dua makam saja, selebihnya tanah waqaf ini sudah penuh bangunan, dan sedihnya makam keluarga Sultan yang lainnya sudah hilang ditimbun dibawah bangunan.

Tahun 2015, bangunan liar di tempat ini pernah ditertibkan oleh Pemko Banda Aceh termasuk menertibkan kedai bakso yang berjualan menutupi akses menuju cagar budaya tersebut.
Namun beberapa hari kemudian kedai tersebut berjualan kembali seperti semula dengan menghambat akses masuk makam bahkan malah membangun bangunan permanen.

Di Hari Maulid Nabi tanggal 12 Rabi’ul awwal 1441 atau 9 November 2019 kedai ini mengalami kebakaran hebat, bangunan makam Sultan cucu Rasulullah SAW yang terjepit diantara padatnya bangunan ini pun ikut terbakar dalam peristiwa tersebut. Beberapa hari kemudian kedai bakso kembali beroperasi seperti biasa dan tetap menutup akses masuk cagar budaya.
Yang mengherankan, sejak dulu kedai bakso ini membuat pintu besi besar tertutup setinggi 2 meter di jalan masuk makam sehingga menutupi akses masuk kekawasan cagar budaya tersebut, seakan area tersebut adalah milik pribadinya.

Parahnya lagi di dalam tanah waqaf kawasan cagar budaya ini telah dibangun beberapa rumah dan hotel yang jejeran WC nya dibangun tepat disamping makam mengarah langsung ke nisan Sultan, menambah jejeran WC yang sebelumnya sudah dibangun oleh kedai bakso. Kini tepat di nisan makam Sultan sudah dikepung oleh jejeran WC toilet. Sungguh sangat memprihatinkan. Apa lagi sampai saat ini belum ada perhatian Pemkot untuk membenahi tempat tersebut.

Seperti diketahui, pada tahun 1703 Sultan Sayyid Jamalul Alam Badrul Munir Jamalullail keturunan Rasulullah naik tahta Kesultanan Aceh Darussalam. Sultan Jamalul Alam Badrul Munir terkenal dengan keadilannya dan kealimannya.

Sultan Jamalul Alam ketika naik tahta telah memerintahkan Syeikh Muhammad mengarang Undang-undang Aceh tahun 1708. Kitab Adat Aceh juga menceritakan tentang keadilan Sultan dan juga kedatangan Tamu Asing ke Aceh. Salah satu pedagang Denmark yang bernama Isblur mendapatkan gelar orang kaya putih dan sebuah rumah dari Sultan Jamalul Alam Badrul Munir Jamalullail pada saat itu. Menandakan betapa kuatnya hubungan perdagangan Aceh saat itu dengan dunia Internasional.

Sultan Jamalul Alam Badrul Munir Jamalullail juga dikenal sebagai Sultan Aulia dan ulama, Sultan ini dikenal sangat dihormati di Aceh dan dunia internasional.

Sultan Jamalul Alam Badrul Munir Jamalullail ketika wafat di makamkan dekat Blang Padang atau Gampong Baro sekarang ini dikenal dengan Lampoh Tube Poteu Jeumaloy.

Keturunan Sultan Sayyid Jamalul Alam Badrul Munir Jamalullail yang terkenal salah satunya adalah Teungku Di Mulek penyalin kembali Qanun Al Asyi.
Peranan keturunan Jamalullail terkenal karena Pada tahun 1872 keturunan Jamalullail telah menyumbangkan berkilo-kilo emas untuk mengumpulkan senjata untuk persiapan menghadapi Belanda. Pada tahun 1873 Belanda menyerang Aceh dan kalah, Jenderal Kohler terbunuh di Mesjid Raya Baiturrahman Banda Aceh oleh sniper Aceh Panglima Dalam Teuku Nyak Raja Luengbata. Pada akhir tahun 1873 Belanda menyerang kembali dan tahun 1874 berhasil menguasai Dalam (istana).

Setelah menguasai Kawasan Istana yang disebut Dalam, Belanda tetap menghormati aturan Internasional bahwa Kawasan Lampoh Tube kawasan Makam Sultan Jamalul Alam Badrul Munir Jamalullail tetap dihormati sebagai tanah wakaf.

Kawasan Makam Poteu Jeumaloy terus menjadi kawasan ziarah di Aceh, hampir setiap saat selalu ada peziarah yang datang berziarah.

Pada tahun 1980-an telah berdiri Warung Bakso di dalam area Cagar budaya, walaupun sudah beberapa kali ditegur dan ditertibkan pemerintah namun penjual bakso tetap membandel dan terus berjualan. Bahkan setelah terjadi kebakaran hebat tanggal 9 November 2019 di Kedai Bakso Hendra hendri yang menyebabkan bangunan Makam Sultan terbakar, kedai bakso pun tetap membandel dan beroperasi kembali seperti biasa menutup akses makam. Banyak pihak yang prihatin dengan kondisi tersebut.

Yayasan Darud Donya yang dipimpin Cut Putri juga sangat prihatin dan telah mengirimkan surat kepada Walikota Banda Aceh meminta Pemerintah Kota Banda Aceh menertibkan kawasan Situs Cagar Budaya Sultan Sayyid Jamalul Alam Badrul Munir Jamalullail dari semua bangunan liar.

Mengingat jasa besar Sultan Jamalul Alam Badrul Munir Jamalullail dan para keturunannya untuk Aceh, maka sudah selayaknya bangunan yang mengepung kawasan Situs cagar budaya baik itu toilet dan lainnya untuk ditertibkan supaya dapat dikunjungi wisatawan dan para penziarah lagipula itu adalah kawasan Tanah Wakaf milik negara, karena Kaphe Belanda saja sangat menghormati tanah waqaf Poteu Jeumaloy apalagi Bangsa Aceh yang bersyariah Islam.

Hal ini harus ada tindakan sekera dari pemerintahan Aceh, demi menghormati leluhur bangsa Aceh, dan demi menjaga marwah Aceh itu sendiri.*** (Mawardi)

Catatan Redaksi: Apabila ada pihak yang merasa dirugikan atau keberatan dengan penayangan artikel dan/atau berita tersebut di atas, silahkan mengirim sanggahan dan/atau koreksi kepada Kami sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12) UU Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers melalui email: transnewsredaksi@gmail.com