transnews.co.id – Rasa malas dan penurunan produktivitas di tempat kerja sering kali dicap sebagai masalah sikap atau kurangnya kedisiplinan.
Namun, berbagai penelitian medis terbaru membuktikan bahwa kondisi tersebut bisa jadi bersumber dari gangguan biologis pada sistem pencernaan.
Keterkaitan ini terjadi akibat adanya komunikasi dua arah antara usus dan otak yang dikenal sebagai gut-brain axis (sumbu usus-otak). Ketika saluran pencernaan bermasalah, fungsi otak secara otomatis ikut terganggu.
Data riset dalam PMC Gut-Brain Axis Study, sebuah arsip digital AS untuk literatur jurnal ilmiah biomedis dan ilmu hayati yang dikelola oleh National Center for Biotechnology Information (NCBI), bagian dari National Institutes of Health (NIH) di Amerika Serikat, mengungkapkan bahwa sekitar 90% serotonin hormon pengatur suasana hati dan fokus diproduksi di dalam usus. Kesehatan usus yang buruk berkolerasi kuat dengan penurunan fungsi kognitif yang memicu brain fog (otak berkabut), sulit berkonsentrasi, serta melambatnya kecepatan berpikir.
Meskipun kerap dianggap sepele, masalah pencernaan yang dialami anak-anak hingga orang dewasa ini dapat secara signifikan menguras energi dan merusak kualitas hidup melalui beberapa mekanisme dasar:
Penyedotan Energi Tubuh: Tubuh menguras banyak energi untuk melawan peradangan usus. Ditambah dengan gangguan penyerapan nutrisi (malabsorpsi), penderita kerap merasa lemas dan loyo sepanjang hari.
Gangguan Fokus dan Konsentrasi: Rasa kembung dan mulas secara terus-menerus mengirimkan sinyal ketidaknyamanan ke otak, sehingga memicu brain fog yang menyulitkan pengambilan keputusan.
Kerusakan Suasana Hati: Terganggunya produksi serotonin akibat kerusakan sistem pencernaan memicu rasa cemas, stres, sensitivitas tinggi, hingga hilangnya motivasi kerja.
Penurunan Kualitas Tidur: Gejala seperti asam lambung (GERD) yang memburuk saat berbaring kerap memicu insomnia, menyebabkan rasa kantuk berat dan ketidakberdayaan di siang hari.
Para ahli medis mengimbau masyarakat untuk mengenali gejala awal dan segera memutus siklus “pencernaan buruk sama dengan malas” tersebut.
Langkah penanganan yang direkomendasikan meliputi perbaikan pola makan dengan membatasi junk food serta memperbanyak serat, mengatur jadwal makan secara teratur, mengelola tingkat stres, hingga berkonsultasi langsung dengan dokter spesialis penyakit dalam (gastroenterologi) jika gejala telah bersifat kronis.












Komentar ditutup.