Depok, Transnews.co.id – Sepasang suami istri dikabarkan mengalami nasib tragis saat menjalani prosesi persalinan bayi di Puskesmas Tapos. Mereka harus merelakan buah hatinya pergi untuk selamanya, bahkan sebelum sang buah hati sempat melihat dunia.
Adalah Ahmad Wahyudi (32) dan sang istri IR (31), warga RT 02/RW 12 Kelurahan Tapos, Kecamatan Tapos, Kota Depok. Mereka harus menerima kenyataan pahit karena janin dalam kandungan IR meninggal dunia, dan rahim sang istri harus diangkat akibat pendarahan.
Ahmad Wahyudi mengutarakan kekecewaan terhadap lambatnya penanganan medis hingga pengambilan keputusan untuk rujukan di Puskesmas Tapos tersebut.
Diceritakan Ahmad, kejadian bermula ketika Ahmad membawa istrinya yang mulai merasakan tanda-tanda persalinan ke Puskesmas Tapos pada pukul 15.00 WIB. Saat pemeriksaan awal, bidan menyatakan IR baru mengalami pembukaan 3.
Proses persalinan berlanjut hingga malam hari. Pukul 20.00 WIB, pemeriksaan ulang menunjukkan perkembangan signifikan; pembukaan sudah mencapai level 8.
“Sekitar jam 21.00 WIB, setahu saya air ketubannya dipecahkan oleh bidan shift malam. Bidan mengecek pembukaan sudah penuh, tapi bayinya belum juga kelihatan,” kata Ahmad Wahyudi seperti dilansir media, Minggu (27/9/2026).
Dikatakan Ahmad Wahyudi, melihat kondisi bayi yang tak kunjung turun meski pembukaan sudah lengkap, bidan berkonsultasi dengan dokter jaga. Pihak puskesmas sempat menginformasikan bahwa proses rujukan ke rumah sakit baru akan dilakukan sekitar pukul 02.00 WIB.
Namun, rujukan akhirnya baru direalisasikan pada Rabu dini hari pukul 01.00 WIB menuju RS Setya Bhakti. Karenanya, ia mempertanyakan pertimbangan fasilitas kesehatan tersebut dalam memilih rumah sakit rujukan. Menurutnya, lokasi RS Setya Bhakti terbilang cukup jauh dari lokasi kejadian.
“Yang saya heran, kenapa memilih rumah sakit yang jaraknya lebih jauh? Kenapa tidak dirujuk ke RSUD yang lokasinya jauh lebih dekat dan memadai?” cetusnya.
Setibanya di RS Setya Bhakti, tim medis segera melakukan pemeriksaan intensif dan memutuskan untuk melakukan tindakan operasi caesar darurat pada pukul 05.00 WIB. Namun, keajaiban yang diharapkan tak kunjung tiba.
“Sesampainya di RS bidan yang mendampingi mengatakan ketuban sudah tinggal sedikit dan berwarna hijau kental, ” ungkapnya.
Pihak dokter memanggil Ahmad ke samping ruangan operasi untuk menyampaikan kabar membagongkan sekaligus memilukan. Bayi dalam kandungan IR dinyatakan meninggal dunia.
Tak hanya itu, dokter juga menemukan adanya luka robek pada rahim IR sehingga tindakan pengangkatan rahim (histerektomi) harus segera diambil demi menyelamatkan nyawa sang ibu.
“Dokter menyampaikan ada robekan di rahim istri saya dan harus dilakukan pengangkatan rahim. Namun, penjelasan terkait luka robek itu akibat apa, sampai sekarang belum jelas,” pungkas Ahmad.
Kini, keluarga korban berharap ada evaluasi menyeluruh serta penjelasan transparan dari pihak Puskesmas Tapos dan Dinas Kesehatan terkait standar pelayanan darurat maternal di fasilitas kesehatan tingkat pertama tersebut.
Kondisi yang dialami Ahmad Wahyudi dan sang istri mendapat perhatian dari sejumlah pihak, salah satunya dari Gerakan Rakyat Semesta (GRS). Ketua Umum GRS Anton Sujarwo angkat bicara.
Anton mengecam lambatnya petugas Puskesmas Tapos yang dinilai tidak tanggap dalam menghadapi situasi darurat. “Kalau udah bicara persalinan, harusnya paham risikonya adalah bertarung nyawa, ini kok santai begitu,” ujar Anton.
Dari informasi tersebut, Anton mengaku tidak kaget terhadap pelayanan kesehatan yang ada di Kecamatan Tapos. Diceritakan Anton, ada hal yang lebih pilu perihal layanan kesehatan yang ada di wilayah Depok bagian Timur tersebut.
“Nih ada yang lebih heboh, ada info masuk ke kami bahwa telah terjadi pemotongan 100 ribu per dokter di RSUD ASA dari jasa pelayanan tanpa sepengetahuan pihak RSUD dan izin dari dokter yang bersangkutan. Nanti jika diperlukan, data nya akan kita buka,” pungkas Anton.










Komentar ditutup.