BANGKALAN, transnews.co.id – Museum Syaikhona Muhammad Kholil resmi dibuka untuk umum di lingkungan Pondok Pesantren Al-Anwar Al-Cholily, Bangkalan, Jumat (17/7/2026).
Kehadiran museum ini menjadi langkah penting dalam melestarikan jejak perjuangan, pemikiran, dan keteladanan ulama besar asal Madura yang berpengaruh terhadap perkembangan Islam, pendidikan, serta semangat kebangsaan di Indonesia.
Peresmian dihadiri oleh dzurriyah Syaikhona Muhammad Kholil, jajaran pimpinan Fakultas Keislaman Universitas Trunojoyo Madura (UTM), kepala organisasi perangkat daerah (OPD) Kabupaten Bangkalan, serta perwakilan Gubernur Jawa Timur melalui Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Jawa Timur, Ir. Tiat S. Suwardi, M.Si.
Acara diawali dengan pembukaan oleh KH. Mohammad Faidhol Anwar, dilanjutkan peninjauan museum dan sambutan dari Ketua PCNU sekaligus Ketua MUI Kabupaten Bangkalan, KH. Mohammad Makki Nasir, yang juga merupakan dzurriyah Syaikhona Muhammad Kholil.
Dalam sambutannya, KH. Makki Nasir berharap museum tersebut menjadi pusat pembelajaran yang mampu menanamkan nilai-nilai keislaman dan kebangsaan kepada generasi muda.
“Semoga Museum Syaikhona Muhammad Kholil mampu mencetak generasi yang mencengkeram nilai-nilai agama dan bangsa di tengah derasnya arus global,” ujarnya.
Mewakili Gubernur Jawa Timur, Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Jatim, Ir. Tiat S. Suwardi, M.Si., menyampaikan apresiasi atas terwujudnya museum tersebut.
Menurutnya, museum ini tidak hanya menjadi tempat mengenang jasa ulama besar, tetapi juga memiliki potensi sebagai pusat edukasi sejarah dan destinasi wisata religi yang membanggakan.
“Atas nama Gubernur Jawa Timur kami mengapresiasi setinggi-tingginya terwujudnya museum ini. Insyaallah menjadi salah satu lokasi utama untuk mengenang jasa para leluhur serta menjadi sarana edukasi dan destinasi wisata religi yang membanggakan, tidak hanya bagi Bangkalan dan Jawa Timur, tetapi juga Indonesia,” katanya.
Senada dengan itu, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bangkalan, Eko Setiawan, S.Si., M.T., menegaskan bahwa museum ini merupakan simbol kecintaan masyarakat terhadap perjuangan dan keteladanan Syaikhona Muhammad Kholil.
Museum tersebut menyimpan berbagai koleksi bersejarah yang menggambarkan perjalanan dakwah Syaikhona Muhammad Kholil Abd Latif. Kiprah beliau tidak hanya membangun kehidupan keagamaan, tetapi juga memberi kontribusi besar dalam bidang pendidikan, sosial, hingga nasionalisme.
Salah satu warisan pemikirannya yang paling dikenal adalah semboyan “Hubbul Wathan Minal Iman” yang terus hidup di tengah masyarakat.
Pengunjung juga dapat melihat koleksi langka, seperti kitab-kitab peninggalan Sultan Kadirun, mushala hadiah dari Raja Bangkalan, hingga berbagai karya dan peninggalan KH. Moh. Toha Kaffal, keponakan sekaligus penerus perjuangan Syaikhona Muhammad Kholil sebagai pengasuh kedua Pondok Pesantren Jangkebuan.
Prosesi peresmian ditandai dengan pemotongan pita oleh KH. Drs. Syafik Rofi’i, KH. Mohammad Makki Nasir, Farid Ardyansyah, S.E., M.M., Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Jawa Timur, serta perwakilan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bangkalan.
Seluruh tamu undangan kemudian meninjau koleksi museum yang merekam perjalanan dakwah, keilmuan, dan perjuangan ulama kharismatik tersebut.
Berdirinya Museum Syaikhona Muhammad Kholil diharapkan menjadi benteng pelestarian sejarah, pusat edukasi generasi muda, sekaligus penguat identitas Bangkalan sebagai salah satu pusat lahirnya ulama besar yang memberi pengaruh luas bagi perjalanan Islam dan bangsa Indonesia.











