MALANG, transnews .co.id — Proyek pembangunan Sekolah Rakyat (SR) Jawa Timur 4 di Kabupaten Malang terus dipercepat guna mengejar target program percepatan dari Kementerian Pekerjaan Umum (PU). Hingga akhir Mei 2026, progres pekerjaan di lapangan telah mencapai 69 persen.
Site Manager PT Nindya Karya (Persero), Tales, mengatakan percepatan proyek dilakukan dengan menambah jumlah tenaga kerja, alat berat, serta menerapkan sistem kerja dua shift dari siang hingga malam. Bahkan sebagian pekerja bekerja hingga dini hari.
“Untuk memenuhi target percepatan, saat ini kami mempekerjakan 800 orang pekerja selain staf. Dari jumlah tersebut, sekitar 200 pekerja khusus menangani pekerjaan arsitektur, dan jumlahnya masih berpotensi bertambah hingga 400 pekerja dengan sistem kerja non-stop,” ujar Tales.

Ia menjelaskan, kontrak pembangunan dimulai sejak pertengahan Desember 2025. Namun pekerjaan efektif baru berjalan setelah proses timbunan dan penyiapan lahan selesai dilakukan.
Awalnya, proyek ditargetkan rampung melalui Provisional Hand Over (PHO) pada pertengahan Agustus 2026. Akan tetapi, adanya instruksi percepatan dari Presiden Prabowo Subianto membuat pihak pelaksana menargetkan gedung sekolah sudah dapat digunakan pada akhir Juni 2026.
“Dengan adanya program percepatan tersebut, kami berupaya maksimal agar proyek ini bisa selesai sebelum Juli 2026,” katanya.

Dari kiri, Jurnalis transnew.co.id saat konfirmasi progres pembangunan sekolah rakyat Jawa Timur di Kabupaten Malang. Rabu (27/5/2026)
Menurut Tales, pada tahap awal pembangunan progres pekerjaan belum terlihat signifikan karena masih didominasi pekerjaan persiapan, seperti timbunan dan mobilisasi alat berat.
Kondisi tersebut sempat menyebabkan deviasi minus tipis, namun secara keseluruhan proyek masih berjalan sesuai rencana.
Saat ini, pembangunan telah memasuki tahap pekerjaan arsitektur dan mekanikal.
Karena lokasi proyek berada di kawasan rawan gempa atau zona merah, konstruksi bangunan sekolah menggunakan penutup atap berbahan bitumen onduline guna meningkatkan keamanan dan ketahanan bangunan.
Selain itu, seluruh material utama seperti semen, keramik hingga penutup atap telah tersedia di gudang.
“Semua material pendukung sudah siap, tinggal percepatan di lapangan,” ujar Tales.
Untuk mendukung pembangunan Sekolah Rakyat tahap II tersebut, pemerintah daerah telah menyiapkan lahan seluas sekitar 5,9 hektare di Kabupaten Malang.
Nantinya, Sekolah Rakyat Jatim 4 akan mengusung konsep boarding school yang mencakup jenjang SD, SMP hingga SMA dengan kapasitas sekitar 1.008 siswa.
Setiap jenjang pendidikan akan dilengkapi gedung dua lantai untuk kegiatan belajar mengajar. Selain itu, juga dibangun fasilitas pendukung berupa asrama siswa dan guru, kantin terpisah, dapur, gudang hingga rumah susun guru.
Fasilitas lainnya meliputi rumah ibadah, guest house, serta lapangan upacara yang juga dapat difungsikan sebagai lapangan bola voli dan basket.
“Konsepnya boarding school, sehingga siswa dapat tinggal dan belajar dalam satu kawasan terintegrasi,” jelas Tales.
Keberadaan sekolah rakyat tersebut mendapat sambutan positif dari warga sekitar. Saruti (45), penjual bakso asal Desa Rejosari, Kecamatan Bantur, berharap sekolah tersebut benar-benar memberikan akses pendidikan gratis dan berkualitas bagi masyarakat kurang mampu.
“Harapannya sekolah ini benar-benar gratis tanpa pungutan liar, sehingga bisa membantu masyarakat kecil,” katanya.
Hal senada disampaikan Satuki (53), warga Kecamatan Bantur. Ia berharap pembangunan Sekolah Rakyat dapat membantu anak-anak dari keluarga kurang mampu memperoleh akses pendidikan yang lebih dekat.
Menurutnya, hingga kini wilayah Kecamatan Bantur belum memiliki SMP negeri maupun SMA negeri, sehingga warga harus menempuh jarak cukup jauh untuk melanjutkan pendidikan.
Diketahui, proyek pembangunan Sekolah Rakyat Jawa Timur 4 merupakan hasil lelang yang diikuti sekitar 50 perusahaan konstruksi nasional.
PT. Nindya Karya (Persero) akhirnya ditetapkan sebagai pemenang tender dengan nilai penawaran sebesar Rp1,2 triliun untuk lima lokasi di Jawa Timur.
Proyek strategis tersebut diharapkan menjadi tonggak pemerataan akses pendidikan berkualitas di Jawa Timur sekaligus menjadi model pengembangan sekolah berbasis asrama di Indonesia.












