JEPARA, transnews.co.id – Tradisi ngumbah gaman atau membersihkan pusaka kembali dilakukan masyarakat Jawa menjelang datangnya Bulan Suro, yang merupakan awal tahun dalam penanggalan Jawa. Bagi sebagian warga, tradisi ini tidak hanya dimaknai sebagai perawatan benda pusaka, tetapi juga sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur serta upaya menjaga nilai-nilai budaya yang diwariskan secara turun-temurun.
Salah satu warga Kampung Kalinyamat, Jepara, Muhammad Bunadi, melaksanakan tradisi ngumbah gaman dengan membersihkan keris pusaka keluarga yang telah diwariskan selama tiga generasi. Keris tersebut sebelumnya dimiliki oleh ayahnya, almarhum Parnadi, kemudian diwariskan dari kakek hingga buyutnya yang dikenal sebagai pemangku adat setempat.
Di halaman rumahnya, Bunadi menyiapkan berbagai perlengkapan tradisional berupa daun sirih, daun kemangi, air jeruk nipis, dan air kelapa muda yang digunakan untuk membersihkan bilah keris. Menurutnya, tradisi tersebut memiliki makna yang lebih dalam dibanding sekadar membersihkan benda pusaka.

“Ngumbah gaman merupakan cara kami menghormati leluhur sekaligus mengingat kembali akar budaya yang telah diwariskan kepada keluarga,” ujar Bunadi. (15/06/2026).
Ia mengenang pesan sang ayah yang selalu mengajaknya mengikuti ritual tersebut setiap Bulan Suro. Bagi keluarganya, keris bukan hanya benda bersejarah, melainkan simbol nilai kehidupan, kejujuran, dan tanggung jawab yang harus dijaga oleh setiap generasi.

Bapak Parnadi almarhum leluhur
Dalam prosesi tersebut, Bunadi membersihkan setiap bagian keris secara perlahan sambil memanjatkan doa untuk keselamatan keluarga, kerukunan masyarakat, serta kelestarian budaya Jawa. Ia mengaku merasakan kedekatan emosional dengan almarhum ayahnya saat menjalankan tradisi yang sama.
Usai dibersihkan, keris kembali disimpan dan ditutupi kain batik pusaka keluarga. Bunadi juga menyiapkan sesaji sederhana yang nantinya dibawa untuk berziarah ke makam sang ayah sebagai bentuk penghormatan dan doa kepada leluhur.
Tradisi Bulan Suro di keluarga Bunadi tidak berhenti pada ritual pembersihan pusaka. Pada malam harinya, seluruh anggota keluarga berkumpul untuk menggelar doa bersama dan makan bersama dengan hidangan khas Suro seperti opor ayam, telur pindang, sambal goreng ati, pecel, dan wajik gula merah.
Momentum tersebut dimanfaatkan untuk mempererat hubungan keluarga sekaligus mengenalkan nilai-nilai budaya kepada generasi muda. Anak-anak yang hadir diperkenalkan pada sejarah keluarga dan makna keris pusaka yang menjadi simbol warisan leluhur.
Dalam kesempatan itu, nenek Bunadi yang telah berusia lebih dari 90 tahun juga menyampaikan pesan kepada seluruh anggota keluarga agar terus menjaga tradisi, lingkungan, dan persaudaraan di tengah perkembangan zaman.
“Leluhur kita membangun kampung ini dengan kerja keras dan penuh cinta. Tugas kita adalah menjaga warisan itu agar tidak hilang ditelan modernisasi,” pesannya di hadapan keluarga besar.
Sebagai penutup rangkaian acara, seluruh anggota keluarga menyatakan komitmen untuk terus melestarikan tradisi Bulan Suro, menjaga pusaka keluarga, serta memperkuat hubungan antaranggota keluarga dan masyarakat sekitar.
Bagi Bunadi, Bulan Suro menjadi pengingat bahwa warisan leluhur bukan hanya berupa benda pusaka, melainkan juga nilai-nilai kehidupan yang harus diteruskan dari generasi ke generasi.
“Rantai kehidupan ini tidak boleh putus. Dari orang tua kepada anak-anaknya, dan dari generasi sekarang kepada generasi yang akan datang,” tuturnya.












