Menu

Mode Gelap
Gubernur Khofifah Bersama Forkopimda Tinjau Pengamanan Natal 2025 di Surabaya Pastikan Perayaan Natal 2025 Berjalan Aman, Forkopimda Sidoarjo Pantau Gereja Proyek Rehabilitasi dan Renovasi Madrasah PHTC Jatim 2 Tahap Finishing, Addendum 14 Hari  Kominfo Jatim Evaluasi Pengelolaan SP4N LAPOR!, Dorong Peningkatan Status Kabupaten/Kota Bupati Sidoarjo Tinjau Longsor Bantaran Sungai di Desa Temu, Instruksikan Penanganan Darurat Perkuat Tata Kelola Digital, Ribuan Desa di Jawa Timur Terima Hibah Komputer dari Korsel

KESEHATAN

Dinkes Pekanbaru Data 13.360 Kasus TB di Pekanbaru pada 2021

LOGOS TNbadge-check


					Dinkes Pekanbaru Data 13.360 Kasus TB di Pekanbaru pada 2021 Perbesar

Pekanbaru, Transnews.co.id – Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Pekanbaru menyebutkan pada 2021 capaian standar pelayanan minimal (SPM) Tuberkulosis atau orang terduga TB mengalami peningkatan, yakni 13.360 atau sebesar 36,83 persen, dari target 41.705 kasus.

Sebelumnya pada 2020 capaian standar pelayanan minimal (SPM) Tuberkulosis atau orang terduga TBC sebanyak 7.646 atau sebesar 20,70 persen, dari target capaian sebanyak 36.938.

Berdasarkan data yang disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru dr. Zaini Rizaldy, capaian kasus mengalami peningkatan dikarenakan adanya kegiatan investigasi kontak, skrining TB di tempat khusus seperti lembaga pemasyarakat (Lapas), perusahaan, panti, dan tempat lainnya.

Dalam menekan penyakit TB, berbagai upaya dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru, di antaranya menetapkan di setiap keluarga penderita TB, ada pemantau minum obat atau PMO.

“Kami menetapkan setiap keluarga yang mempunyai kasus atau pasien TB, dia harus ada orang yang ditunjuk untuk mengawasi atau mengingatkan untuk minum obat. Namanya itu PMO, pemantau minum obat. Jadi dialah nanti yang mengingatkan (pasien minum obat). Itu yang pertama,” terang Zaini Rizaldi.

Selain adanya PMO, penderita TB harus disiplin dalam menjaga kesehatan, baik pribadi maupun lingkungan sekitar.

“Tidak boleh meludah sembarangan. Itu bisa menularkan ke orang lain. Pencahayaan di rumah, seperti harus ada sinar matahari. Kasus TBC ini masih tinggi. Ketika 1 orang yang terkena TBC, itu diperkirakan 20 orang disekitarnya bisa terkena. Itulah bahayanya TBC ini,” sebut Zaini.

Disampaikannya, mencegah penyakit lebih baik dari pada mengobati. “Kalau mencegah, upaya promotif dan preventif. Kalau kuratif artinya pengobatan, kita obati kalau dia sudah kena. Ini tidak menyelesaikan masalah. Itu masalah di hilir, bukan di hulu, bukan penyebabnya,” jelasnya.

Baca Lainnya

Gubernur Khofifah Siagakan OPD Hadapi Mudik Lebaran 2026, WFA Diterapkan Tanpa Ganggu Layanan Publik

18 Maret 2026 - 20:02

Pemkab Sidoarjo Berangkatkan 1.400 Pemudik Gratis, Siapkan 28 Bus ke 5 Rute Favorit

18 Maret 2026 - 20:00

Jelang Lebaran 2026, Forkopimda Jepara Pastikan Stok Pangan dan Energi Aman

17 Maret 2026 - 21:39

Semarak Ramadhan, Grup Senam Aerobik Saigo Jepara Gelar Buka Bersama untuk Pererat Silaturahmi

16 Maret 2026 - 21:52

News Trending DAERAH