JEPARA, transnews.co.id – Kumpulan Guru dan Istri Pensiunan (Paguriska) menekankan pentingnya menjaga kesehatan mental dalam penggunaan media sosial melalui kegiatan bertema “Jaga Hati di Scroll Tanpa Sentuh”. Kegiatan yang digelar rutin setiap bulan tersebut berlangsung di Desa Bumiharjo, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara.
Dalam kegiatan tersebut, Heny Anistyawati, guru SD Negeri 2 Ngandong yang tinggal di Dukuh Dermayu, Desa Bumiharjo, menyampaikan bahwa para orang tua sebagai pejuang peradaban keluarga memiliki tanggung jawab menjaga kesehatan mental dan hati dari dampak kecanduan menggulir atau scrolling layar telepon genggam.
Menurut Heny, terdapat sejumlah langkah sederhana yang dapat diterapkan untuk mengurangi ketergantungan terhadap media sosial.

Di antaranya mengatur waktu penggunaan gawai dengan memanfaatkan alarm atau fitur pembatas aplikasi, serta melakukan “puasa scroll” dengan menjadwalkan waktu detoks digital secara berkala.
“Matikan Wi-Fi pada pukul 17.00 hingga 20.00 WIB. Dalam rentang waktu tersebut, seluruh anggota keluarga tidak memegang atau menggunakan ponsel,”
“Waktu tersebut dapat dimanfaatkan untuk belajar, berdiskusi dengan anak-anak mengenai pelajaran di sekolah hari ini maupun persiapan untuk esok hari,” ujar Heny.

Paguriska Jepara Ajak Guru dan Orang Tua Jaga Kesehatan Mental di Era Media Sosial
Ia juga mengimbau masyarakat untuk membersihkan beranda media sosial dari konten yang tidak bermanfaat serta lebih selektif dalam memilih informasi yang dikonsumsi.
Selain itu, penggunaan fitur scroll tanpa sentuh dinilai dapat membantu mengurangi interaksi berlebihan dengan layar sehingga pengguna lebih mudah menghentikan aktivitas berselancar di media sosial.
“Sebagai seorang ibu dan guru, kita harus memberikan contoh yang baik kepada putra-putri kita. Keteladanan tersebut penting agar dapat memberikan manfaat bagi anak-anak maupun para siswa,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua Paguriska, Suprapti, S.Pd., dalam sambutannya juga mengingatkan para guru agar berpenampilan sederhana dan tidak berlebihan saat mengajar di sekolah.
Menurutnya, guru merupakan sosok yang menjadi perhatian dan teladan bagi peserta didik. Oleh karena itu, penampilan yang wajar dan profesional dinilai lebih tepat diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar.
“Guru hendaknya tidak berdandan berlebihan karena siswa saat ini sangat kritis dan memperhatikan setiap hal yang dicontohkan oleh gurunya,”
“Berpenampilan sewajarnya akan memberikan teladan yang baik bagi peserta didik. Tentu berbeda jika dalam kegiatan tertentu seperti peringatan Hari Kartini atau pentas seni,” kata Suprapti.
Melalui kegiatan tersebut, Paguriska berharap para guru, orang tua, dan masyarakat dapat lebih bijak dalam memanfaatkan teknologi digital serta menjaga kesehatan mental di tengah derasnya arus informasi di media sosial.











