SURABAYA, transnews.co.id – Tekanan akademik dan penggunaan media sosial menjadi tantangan serius bagi kesehatan mental generasi muda. Merespons kondisi tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Timur memperluas akses layanan kesehatan jiwa melalui Sentra Sehat Jiwa Jawa Timur (SEHATI JATIM).
Layanan konseling gratis ini menyasar remaja dan aparatur sipil negara (ASN), dengan mengedepankan edukasi, pencegahan, serta pendampingan sejak dini.
Penguatan layanan tersebut diwujudkan melalui sosialisasi SEHATI JATIM Regional I di Madiun.
Program ini merupakan bagian dari inovasi Jatim Sehat melalui program prioritas Mental Wellness and Happiness Service (MWHS).
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, Cicik Swi Antika, mengatakan tuntutan prestasi akademik dan penggunaan media sosial menjadi tantangan besar bagi kesehatan mental anak dan remaja saat ini.
“Kalau terkait kesehatan mental, terutama di remaja, anak-anak sekolah, ini memang tantangan luar biasa. Sekarang tuntutan prestasi luar biasa, media sosial juga luar biasa,” ujarnya dalam peluncuran Program Sehati di Kota Madiun, Kamis (28/10/2026).
Hingga Oktober 2026, Pemprov Jatim telah menghadirkan dua sentra layanan SEHATI. Sentra pertama berada di Regional III Surabaya yang berlokasi di RS Prof. dr. Moelyono (RS Menur) sejak 2025. Sementara sentra kedua dibuka tahun ini di Regional I Madiun, bertempat di RS Paru Manguharjo.
Kedua sentra tersebut menyediakan layanan kesehatan jiwa yang mudah dijangkau dan tidak dipungut biaya. Masyarakat dapat mengakses pendampingan secara daring maupun langsung dengan mendatangi lokasi layanan.
Cicik menjelaskan, program MWHS tidak hanya berfokus pada penanganan, tetapi juga mengutamakan upaya promotif dan preventif serta intervensi dasar kesehatan jiwa. Dengan pendekatan tersebut, masyarakat diharapkan lebih memahami kondisi kesehatan mental dan tidak menunda mencari bantuan ketika mulai menghadapi tekanan emosional.
Menurutnya, masyarakat tidak perlu menunggu hingga mengalami gangguan kesehatan mental yang lebih berat untuk memanfaatkan layanan tersebut. SEHATI JATIM dapat menjadi ruang awal bagi masyarakat yang membutuhkan tempat bercerita maupun pendampingan profesional.
“Jadi tidak usah khawatir, bisa langsung datang atau telepon,” katanya.
Untuk memperluas jangkauan layanan, Pemprov Jatim menargetkan pembentukan lima sentra kesehatan jiwa hingga 2029. Setiap sentra direncanakan mewakili satu wilayah regional di Jawa Timur agar masyarakat di berbagai daerah memperoleh akses pendampingan yang lebih merata.
Selain memberikan layanan konseling, SEHATI JATIM juga berpotensi menjadi pintu masuk bagi korban kekerasan untuk mendapatkan bantuan dan rujukan kepada pihak yang sesuai dengan kebutuhan penanganannya.
Masyarakat dapat memperoleh informasi dan mengakses layanan melalui laman resmi https://sehati.jatimprov.go.id/. Nomor kontak masing-masing sentra juga tersedia untuk memudahkan masyarakat mendapatkan pendampingan.
Melalui pengembangan SEHATI JATIM, Pemprov Jatim berupaya memperkuat kepedulian terhadap kesehatan mental di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat.
Perluasan akses konseling gratis ini diharapkan dapat mendorong masyarakat, khususnya remaja, lebih terbuka mencari bantuan tanpa harus menunggu persoalan berkembang menjadi lebih serius.












Komentar ditutup.